Tribunjateng Hari ini
Ziarah ke Makam Pandanaran, Pendiri Kota Semarang di Bukit Mugas
Menyusuri sejarah kota Semarang tidak bisa lepas dari nama Ki Ageng Pandanaran I atau Sunan Pandanaran.
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
Wilayah ini merupakan lokasi daratan pesisir karena saat itu Jalan Pandanaran dan Simpang Lima hingga ke wilayah utara masih berupa rawa-rawa.
"Untuk waktu persisnya datang kemungkinan abad 15-16 Masehi, yang jelas dia menyebarkan tokoh agama di Semarang yang kala itu masyarakatnya masih banyak yang memeluk agama Hindu dan Buddha," bebernya.
Ki Ageng Pandanaran yang berguru ke Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga berusaha menyebarkan agama Islam ke kawasan Semarang sempat bersinggungan Pendeta Pragota yang bergama Hindu.
Menurut Suwarno, Pendeta Pragota pada satu waktu mengakan sayembara beradu kesaktian dengan Sunan Pandanaran.
Hadiah yang bisa mengalahkan Pendeta Pragota adalah anaknya sendiri, yakni Sejanila.
Sayembara itu lantas diikuti Sunan Pandanaran yang akhirnya bisa menumbangkan kekuatan dari Pendeta Pragota saat bertarung di Bukit Brintik, Bergota.
"Saat adu kesaktian, Pragota mengakui kalah sakti dan mengizinkan putrinya menikah dengan Ki Ageng Pandanaran. Terus Sejanila masuk Islam yang awalnya agamanya Hindu," paparnya.
Selepas itu, Sunan Pandanaran menguasai kawasan tersebut.
Kemudian, ia meminta kepada kerajaan Demak untuk meminta memimpin daerah tersebut.
Permintaan itu diajukan karena wilayah Semarang masih dikuasai Demak.
"Dinamailah kawasan itu Semarang, karena banyak pohon asem yang jarang-jarang atau bahasa jawanya arang-arang yang pada masa itu banyak ditemukan di wilayah Semarang," bebernya.
Mengutip penelitian Eko Punto Hendro, antropolog dari Undip Semarang dalam tulisannya bertajuk "Pelestarian Kawasan Konservasi di Kota Semarang" yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), 2015, menuliskan, Semarang diduga telah muncul pada sekitar abad 15, ditandai dengan menetapnya Ki Pandan Arang (Sunan Pandanaran) pada tahun 1398 Saka.
Tome Pires seorang apoteker Portugis yang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara pada pesisir utara pulau Jawa sekitar tahun 1513 M mencatat telah mengunjungi beberapa kota di wilayah itu.
Di antara kota-kota yang dikunjunginya ialah Camaram (Semarang) yang berpenduduk 3.000 orang.
Ki Ageng Pandan Arang merupakan putra dari Panembahan Sabrang Lor (Sultan Kedua dari Kesultanan Demak). Pada awalnya beliau babat alas (bubak) membuka wilayah baru di suatu tempat, yang sekarang bernama Kampung Bubakan.
Setelah Ki Ageng Pandan Arang I wafat, maka posisi pemerintah diserahkan pada anaknya yang bermana Pangeran Mangkubumi (atau disebut juga Ki Ageng Pandanaran II – Sunan Bayat). (Iwan Arifianto)
| Tiga Bos Bank BJB Divonis Bebas dalam Kasus Kredit Sritex |
|
|---|
| Ngadiono Warga Pati Korban Kecelakaan ALS Akan Dibawa dengan Helikopter |
|
|---|
| Taj Yasin: Kasus Pencabulan Santriwati di Pati Sudah Terpantau sejak 2024 |
|
|---|
| Pelarian Ashari Tersangka Pencabulan Santriwati Berakhir di Wonogiri |
|
|---|
| Uniknya Ras Kambing Kaligesing di Klaten, Kambing Mandi Tiga Kali Sehari, Harga Tembus Ratusan Juta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Kamis-26-Februari-2026.jpg)