Tribunjateng Hari ini
Ziarah ke Makam Pandanaran, Pendiri Kota Semarang di Bukit Mugas
Menyusuri sejarah kota Semarang tidak bisa lepas dari nama Ki Ageng Pandanaran I atau Sunan Pandanaran.
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
Belakang dari ruangan berisi tiga makam itu terdapat museum peninggalan Sunan Pandanaran.
Namun, ruangan museum itu dibuka hanya satu tahun sekali, yakni saat acara jamasan pada saat haul Sunan Pandanaran yang diadakan pengelola makam. Haul Sunan Pandanaran tahun 2026 ini merupakan haul ke 524.
Beranjak dari bangunan pendopo yang menyatu dengan ruangan makam Sunan Pandanaran, di samping pendopo terdapat makam keturunan dan kerabat sunan Pandanaran, di antaranya makam anak ketiga, Nyi Ngilir atau Nyai Arang.
Makam itu tidak beratap seperti makam pada umumnya.
Makam itu hanya dipayungi pohon rambutan.
Penjaga makam menyebut, hal itu disengaja karena Nyai Arang menyukai angin semilir sehingga makamnya berada di tempat terbuka.
Juru kunci Makam Sunan Pandanaran Semarang, Suwarno (60), menyebutkan, silsilah Ki Ageng Pandanaran pendiri Kota Semarang merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya yang makamnya berada di belakang Masjid Agung Demak.
Ki Ageng Pandanaran yang dikenal sebagai Ki Ageng Pandanaran I atau Ki Ageng Pandan Aran atau P. Made Pandan memiliki garis keturunan dari Raden Patah Bintoro I yang merupakan kakeknya dan Pangeran Madiyo Pandan atau Maulana Ibnu Abdul Salam adalah ayahnya.
"Ki Ageng Pandanaran memiliki istri Nyi Ageng Sejanila atau Endang Sejanila yang selepas masuk Islam berganti nama menjadi Siti Fatimah," katanya kepada Tribun.
Dari pernikahan itu, lanjut dia, mereka memiliki enam anak, meliputi Ki Ageng Pandanaran II atau Pangeran Kasepuhan atau Sunan Tembayat atau Bayat. Sunan Bayat sempat menggantikan ayahnya menjadi Bupati Semarang dan menjadi tokoh penyebar agama khususnya di wilayah Bayat, Klaten.
Sunan Bayat dimakamkan di Bayat.
Anak kedua, Pangeran Kanoman atau Pandanaran III yang dimakamkan di Imogiri Yogyakarta. Anak ketiga, Nyi Ngilir atau Nyai Arang yang makamnya berada satu komplek dengan orangtuanya di Semarang. Tiga anak lainnya, Pangeran Wotgalih. pangeran Bojong dan Pangeran Sumedi.
"Ketiga makam tokoh tersebut berada di tiga tempat berbeda, Pangeran Wotgalih di Imogiri, pangeran Bojong di Semarang dan Pangeran Sumedi di Tembayat," paparnya.
Babat Alas Semarang
Suwarno mengatakan, Sunan Pandanaran merupakan tokoh yang "babat alas" atau pendiri Kota Semarang. Pandanaran pertama kali datang ke kota Semarang tiba di pulau Tirang.
| Aziz Sebut Tren Pendakian Jadi Peluang, Peminat Kerja Pemandu Gunung Membeludak di BLK Semarang |
|
|---|
| Bus Trans Jateng Terbakar di Gajahmungkur |
|
|---|
| Drama Tari Wayang Topeng Kedung Panjang Soneyan Tampil di Momen Sedekah Bumi |
|
|---|
| Pertamina Naikkan Harga BBM Bersubsidi, Harga Dexlite Naik 66,19 Persen |
|
|---|
| Petugas Sibuk Fogging dan Pasang Perangkap Tikus di Asrama Haji Donohudan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Kamis-26-Februari-2026.jpg)