Semarang
Riset AI Kesehatan di Semarang, Diagnosis Kanker Serviks Ditargetkan Lebih Dini
Sejumlah peneliti di Kota Semarang tengah mengembangkan sistem diagnosis berbasis citra yang ditargetkan memiliki akurasi hingga 95 persen.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Upaya mempercepat deteksi dini kanker serviks kini mulai bergeser ke teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah peneliti di Kota Semarang tengah mengembangkan sistem diagnosis berbasis citra yang ditargetkan memiliki akurasi hingga 95 persen.
Peneliti, dr Meliana, menjelaskan bahwa teknologi ini bekerja dengan mengolah gambar hasil pemeriksaan serviks untuk mengenali pola kelainan yang mengarah pada kanker.
“Selama ini pemeriksaan masih manual melalui IVA test. Dengan AI, kita mengolah citra tersebut agar bisa membantu membaca indikasi kelainan lebih cepat,” ujarnya, dikutip Senin, (4/5/2026).
Baca juga: Rektor UIN Saizu Purwokerto Jadi Pembicara Talkshow Inspiring Leader di UIN Datokarama Palu
Baca juga: AKBP Basuki “Kabur” dari Kamera Seusai Sidang di PN Semarang, Rompi Oranye Jadi Penutup Wajah
Menurutnya, sistem ini dibangun dari kumpulan data gambar yang telah dianotasi, kemudian dipelajari oleh mesin untuk mengenali perbedaan antara kondisi normal dan yang mengarah pada patologi.
Hasilnya, proses diagnosis diharapkan bisa lebih cepat dan akurat, sehingga penanganan pasien tidak terlambat.
“Harapannya, begitu ada indikasi, bisa langsung ditindaklanjuti. Tidak menunggu sampai kondisi sudah parah,” katanya.
Pengembangan teknologi ini dinilai penting mengingat angka kejadian kanker serviks masih tergolong tinggi dan menjadi salah satu penyebab kematian pada perempuan.
Selain faktor keterbatasan akses pemeriksaan, rendahnya kesadaran masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri.
Banyak perempuan yang enggan melakukan pemeriksaan karena faktor rasa malu atau tidak menyadari gejala awal.
“Padahal kalau dideteksi lebih awal, sebenarnya bisa dicegah dan ditangani,” tambahnya.
Tak hanya fokus pada kanker serviks, penelitian lain juga tengah dilakukan terkait faktor risiko preeklamsia pada ibu hamil di Kota Semarang, sebagai bagian dari upaya menekan angka kematian ibu.
Di tengah pengembangan teknologi tersebut, isu ketergantungan sektor kesehatan terhadap impor juga menjadi sorotan.
Dosen FK Undip, dr Renny Yuniati, menyebut kondisi global seperti kenaikan dolar dapat berdampak langsung pada ketersediaan dan harga obat di dalam negeri.
“Kalau dolar naik, otomatis berpengaruh ke obat. Karena kita masih banyak bergantung pada impor bahan baku,” ujarnya.
| Cerita Warga Kalialang Didatangi Gerombolan Monyet: Bedol Singkong hingga Ngopi di Pos Ronda |
|
|---|
| Cerita di Balik Tim 'Pemburu Mayat' Semarang: Pernah Kumpulkan Potongan Jenazah |
|
|---|
| Ratusan Hektar Tambak di Mangunharjo Terdampak Rob, Produksi Ikan Menurun |
|
|---|
| Pawai Ogoh-Ogoh Bakal Digelar di Semarang, Catat Tanggal dan Rutenya! |
|
|---|
| BRI Sisipkan Edukasi Literasi Keuangan saat Gelar Youth Champions League Semarang 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260504_WAWANCARA-Ketua-IKA-Medica-Imesra-Semarang-Raya.jpg)