Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kenang Nanda Sebelum Anak Tewas Kecelakaan di Silayur Semarang: Ar Rasya Minta McD

Di sela rencana ke rumah Paman, Nanda menyebut anaknya juga sempat meminta hal sederhana untuk makan makanan kesukaan, yakni beli McD.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
CERITA NANDA - Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mendengarkan cerita Nanda Tiarawati (25) terkait kecelakaan yang menewaskan anaknya di Silayur Semarang pada Senin (4/5/2026). Momentum itu sekaligus tinjauan Agustina di lokasi longsor RT5 RW1 Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang pada Selasa (5/5/2026). 

"Hari apes tidak ada di kalender. Bapak saya di depan, anak saya di tengah saya pegangi, saya di belakang," ungkapnya.

Rumah Terdampak Longsor

TERDAMPAK LONGSOR - Insiden tanah longsor terjadi di RT5/RW1 Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang. Tercatat, sebanyak tiga unit rumah terdampak dan menimbulkan sebagian bangunan roboh.
TERDAMPAK LONGSOR - Insiden tanah longsor terjadi di RT5/RW1 Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang. Tercatat, sebanyak tiga unit rumah terdampak dan menimbulkan sebagian bangunan roboh. (TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah)

Sementara itu, Nanda juga harus menerima kenyataan pahit terkait rumah yang dihuni bersama keluarganya. Rumah milik mertuanya yang dihuni bersama suami dan mertua tersebut terdampak tanah longsor bertahap sejak awal Mei 2026. 

Retakan dan pergerakan tanah membuat kawasan itu berbahaya untuk dihuni.

Nanda memilih sementara waktu kembali ke rumah orangtuanya di Semarang Utara.

Dia meninggalkan rumah mertuanya yang kini dalam kondisi terancam.

"Saya pulang ke rumah Bapak dulu, di Semarang Utara. Belum mau di sini. Saya mau menenangkan diri di sana," ungkapnya.

Baca juga: Terbongkar, Modus Love Scam Berkedok Investasi di Purworejo, Rp452 Juta Lenyap

3 Jam KPK Periksa Plt Bupati Cilacap, Ammy Bersumpah Tak Tahu Modus Pemerasan Koleganya

Nanda mengungkapkan, mulai tinggal di Kalialang Lama sejak 2019, setelah menikah.

Dia mengaku, tanda-tanda longsor sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum dia menetap di sana.

"Awal-awal rumah yang belakang itu hilang. Itu ada rumah satu. Cuma saya belum ke sini sudah hilang."

"Jadi pas ke sini sudah ada rumah. Ternyata tidak tahunya merembet-merembet,. Ini turun masih 15 meter. Jauh sebenarnya," ceritanya.

Saat longsor terbaru terjadi, Nanda sedang bekerja. Dia mengetahui kondisi tersebut dari media sosial dan warga sekitar, lalu segera kembali untuk menyelamatkan barang-barang penting.

Dia pun sempat mengamankan kebutuhan anaknya, termasuk seragam sekolah di tengah kekhawatiran longsor susulan.

"Sudah apa-apa tak ambil. Seragamnya juga tak bawa. Masih kotor tak cuciin. Terus bilang minta tas, tasnya rusak," ujarnya.

Di tengah situasi sulit, Nanda hanya berharap perhatian dari pemerintah. Bukan semata bantuan materi, tetapi kehadiran yang dirasakan langsung oleh warga terdampak.

"Sebenarnya kami cuma mau diperhatikan, dikunjungi," ucapnya.

Nanda sehari-hari bekerja di sebuah cafe di kawasan Gombel, Kecamatan Banyumanik.

"Sementara saya izin cuti sampai membaik," ungkapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved