Semarang
"Demi Keselamatan" Warga di Sikluwung Asri Semarang Menolak Tower BTS
Tower BTS di Kampung Sikluwung Asri RT 05 RW 01, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, menjadi sorotan.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tower BTS di Kampung Sikluwung Asri RT 05 RW 01, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, menjadi sorotan setelah disegel oleh Satpol PP.
Pantauan Tribun Jateng, garis pembatas berwarna kuning bertuliskan "Belum Berizin" tampak melingkari pagar area tower yang berdiri di tengah lingkungan permukiman tersebut, Selasa (9/6/2026).
Sementara tak jauh dari lokasi tower berdiri, sebuah banner berwarna kuning dan merah terpasang di tepi jalan kawasan RT 03 RW 01. Banner itu berisi penolakan terhadap pembangunan tower.
"Kami warga Sikluwung Asri RT 03 RW 01 Menolak Dilanjutkannya Pembangunan Menara Tower BTS di Dekat Tempat Tinggal Kami Demi Keselamatan Warga," bunyi penolakan tersebut.
Baca juga: Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Mozambik, di Semarang Kick Off Pukul 20.00 WIB
Baca juga: Fans Timnas Jerman asal Semarang: Nobar Piala Dunia Lebih Seru Kalau Pakai Jersey Tim Favorit
Ketua RT 05 RW 01, Sunaryo menyebut, tower BTS tersebut merupakan milik perusahaan provider swasta dan telah disegel Satpol PP, Senin (8/6) kemarin.
Di tengah munculnya penolakan dari sebagian warga, Sunaryo menyebut kondisi di wilayah tempat tower berdiri berbeda dengan di RT 03.
Ia mengklaim pembangunan tower telah dibahas bersama warga RT 05 dan mendapat persetujuan sebelum proyek berjalan.
Menurut Sunaryo, tower tersebut berada di wilayah RT 05, namun radius dampaknya memang juga sampai ke sejumlah wilayah lain di sekitar lokasi.
"Itu kan ada tower. Tower itu kan bertempat di tempat saya di RT 05. Itu tower itu melalui RT 6, RT 7 RW 12 dan RT 3 yang kena radius.
Jadi kalau di RT 5 itu karena saya bertempat di situ, itu mau nggak mau saya mengajukan semua yang KK saya harus dapat kompensasi. Itu sudah rapat, rapat, rapat, rapat di RT 05, warga itu setuju semua.
Saya tanda tangan, akhirnya saya ajukan ke vendor. Kemarin sempat ada permintaan ini-ini semua sudah clear dan waktu puasa kemarin itu di RT 05 sudah mendapatkan Kompensasi," kata Sunaryo ditemui Tribun Jateng di kawasan RT tersebut.
Menurut dia, selama proses pembangunan berlangsung tidak ada persoalan berarti di lingkungan RT 05. Ia menyebut hanya ada satu warga yang sempat mempersoalkan tidak dilibatkannya dalam proses sosialisasi.
"Kalau di tempat saya itu enggak ada masalah. Cuma kemarin memang ada satu yang ngeset 'kok di tempat RT 05 saya beli (rumah) di RT 05 kok enggak diikutkan rapat atau gimana?' Gitu.
Nah, sebetulnya dia itu enggak lapor sama lingkungan atau perangkat RT kan. Itu ya dia menyalahkan Pak RT 05 sampai macam-macamlah," katanya.
Ia juga mengklaim jika berbagai pembahasan mengenai pembangunan tower telah dilakukan beberapa kali bersama warga RT 05 hingga seluruh proses dianggap selesai.
"Saya apa-apa sudah rembuk warga, ada tower ini saya rembuk warga sampai empat kali dan semua clear, sudah tanda-tanda semua sudah menerima sudah enggak ada masalah," katanya.
Lebih lanjut, Sunaryo mengklaim mayoritas warga di RT 05 telah menandatangani persetujuan dan menerima kompensasi dari pihak vendor.
"Ada 93 orang yang tanda tangan yang menerima kompensasi, yang komplain itu ada 5 orang. Itu yang komplain yang tidak menerima itu 5 orang itu dulu sudah mau dikasih. Katanya enggak mau ya gitu. Monggolah itu urusannya vendor lah," katanya.
Terkait proses sosialisasi, Sunaryo menyebut pihak vendor telah menggelar rapat bersama sejumlah wilayah yang masuk radius tower.
Menurutnya, perwakilan RT 03 telah diundang dalam rapat tersebut.
"Iya, rapat bareng. Ada RT 06, RT 07 RW 12, 05, terus 03. (RT) 03 itu selama rapat, diundang enggak pernah datang.
Makanya kan jadinya kayak gini. Pak RT-nya diundang enggak pernah datang di rapat umum," katanya.
Di sisi lain, penolakan terhadap keberadaan tower disuarakan sebagian warga RT 03 RW 01 yang tinggal tidak jauh dari lokasi tower.
Di antaranya Yani (45), warga yang mengaku khawatir soal keselamatan karena kondisi lingkungan sekitar yang berada di kawasan padat penduduk dan berada di wilayah Semarang atas.
Menurut Yani, kondisi wilayah ini rawan terdampak cuaca ekstrem.
"(Alasan menolak) Demi keamanan dan kenyamanan. Karena sini tempat tinggi. Kalau ada angin, takutnya roboh. Sini rawan bencana tanah longsor. Seperti Februari kemarin, ada dua rumah roboh karena angin. Itu sebulan dua kali itu," ungkapnya.
Ia mengatakan, kekhawatiran tersebut semakin besar saat memasuki musim penghujan.
Terlebih, rumahnya berada cukup dekat dengan lokasi tower.
"Khawatirnya pas musim hujan. Kebanyakan menolak termasuk saya. (Rumah) Saya dekat (tower itu), khawatir juga," ujarnya.
Yani juga mengaku sempat melihat kedatangan petugas Satpol PP ke lokasi sebelum dilakukan penyegelan.
"Kemarin ada Satpol PP, mungkin ada penanganan. Harapan ini tidak dilanjut," imbuhnya.
Selain persoalan keamanan, Yani menilai sosialisasi kepada warga sekitar belum dilakukan secara langsung.
Ia mengaku tidak pernah menerima penjelasan secara door to door mengenai rencana pembangunan tower tersebut.
"Warga sekitar sini gak tau, tidak tau juga ya kalau melalui RT. Kalau door to door ke rumah, enggak (ada)," imbuhnya. (idy)
| Update Kebakaran Gudang Kayu KIC Semarang: 2 Forklift dan Wheel Loader Ikut Terbakar |
|
|---|
| Halte BRT Semarang Diseruduk Pikap, Kini Tak Bisa Digunakan Sementara |
|
|---|
| Pertumbuhan Bisnis dan Mobilitas Warga Dorong Pemanfaatan Videotron di Semarang |
|
|---|
| Tiga Lapak PKL Liar dan Area Parkir Tak Berizin di Samping The Park Mall Dibongkar |
|
|---|
| Dua Mata Pisau Influencer Berdampak ke Pariwisata Kota Semarang, Akurasi Konten Jadi Sorotan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260609_TOWER-BTS-Tower-BTS-di-Kampung-Sikluwung.jpg)