Berita Solo
Hasil Panen Petani Boyolali dan Klaten Meningkat Lewat Program Sustainable Rice Platform
Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Rikolto Indonesia berkolaborasi untuk mengembangka
Penulis: Ardianti WS | Editor: muh radlis
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan lembaga, swasta, dan media sangat penting untuk memberikan semangat bagi para petani agar terus berinovasi untuk mencapai pertanian yang berkelanjutan,” ujar Iwan.
Klaten sendiri memiliki lahan sawah seluas 33.435 hektare atau sekitar 51 persen dari total wilayahnya. Daerah ini dikenal luas dengan beras unggulan Rojolele Delanggu yang telah menjadi ikon pertanian lokal.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian Klaten menunjukkan peningkatan signifikan dengan kenaikan produksi beras mencapai 13 ribu ton.
Melalui program SRP, petani diajak beralih ke praktik budidaya berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Kemajuan Koperasi APOB
Koperasi Produsen Asosiasi Petani Organik Boyolali (APOB) kini menjadi salah satu contoh sukses penerapan Sustainable Rice Platform (SRP) di tingkat petani, berkat kemitraan strategis dengan lembaga internasional Rikolto.
Lebih dari 1.800 petani kini menghasilkan beras sehat, rendah emisi, dan ramah lingkungan melalui program SRP yang diterapkan oleh APOB Boyolali bersama Rikolto.
“Sejak bermitra dengan Rikolto, kami bisa mengembangkan budidaya pertanian beras SRP bersama kelompok tani di wilayah Sawit dan Tanju Dono.
Kami bangga bisa memproduksi pangan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Murbowo, Selasa (7/10).
Kemitraan ini memperkuat kemampuan petani dalam praktik pertanian berkelanjutan, termasuk pengurangan penggunaan bahan kimia, efisiensi air, dan pengelolaan tanah yang ramah lingkungan.
Rikolto juga membantu dalam pembinaan kelompok tani, mulai dari pelatihan teknik budidaya SRP hingga strategi pemasaran.
Beras hasil produksi APOB berbeda dari beras konvensional. Penerapan SRP membuat input kimia berkurang signifikan sehingga produk yang dihasilkan lebih aman dikonsumsi.
Saat ini, APOB telah memasarkan beras SRP ke berbagai kota besar seperti Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.
Meski belum menargetkan ekspor, APOB berfokus memperkuat pasar nasional agar hasil petani terserap maksimal.
Kini APOB menaungi 1.842 petani yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Boyolali, dengan rata-rata produksi mencapai 6,5 hingga 7 ton per hektare per musim tanam. Sebagian besar petani bahkan mampu menanam hingga tiga kali dalam setahun.
Dukungan terhadap gerakan pertanian SRP ini juga datang dari Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP).
APOB mendapatkan hibah berupa Rice Milling Unit (RMU) dan bangunan pengolahannya sebagai bentuk dukungan terhadap rantai pascapanen beras berkelanjutan.
Murbowo berharap pemerintah terus memperhatikan kebutuhan petani, terutama dalam hal ketersediaan pupuk dan sarana produksi yang mudah dijangkau.
Dengan harga gabah yang kini mencapai Rp6.500 per kilogram, para petani Boyolali mulai menikmati hasil nyata dari praktik pertanian SRP.
| Rute Bersertifikasi Internasional, Mangkunegaran Run 2026 Sukses Digelar |
|
|---|
| Berburu Kuliner Khas Solo di Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026 |
|
|---|
| Bermodal Kunci T dan Airsoft Gun, Komplotan Pencuri Motor Lintas Provinsi Akhirnya Ditangkap di Solo |
|
|---|
| Geger Jasad Bayi di Sungai Anyar Solo, Usia Baru Sehari Pasca Kelahiran |
|
|---|
| Respati Ardi Tanggapi Namanya Dicatut Coffee Shop Jalan Slamet Riyadi Solo: Lagi Tren |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/201016_Koalisi-Rakyat-Untuk-Kedaulatan-Pangan.jpg)