Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Puncak Tradisi Dandangan di Kudus, Suara Beduk ‘Dang’ Jadi Penanda Masuk Ramadan

Sebelum beduk ditabuh, seorang sesepuh KH Saifuddin Luthfi mengabarkan bahwa sore ini adalah akhir bulan Syakban pada tahun 1447 hijriah. 

Tayang:
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Rifqi Gozali
TABUH BEDUK - Seorang pria menabuh beduk di atas Menara Kudus sebagai penanda memasuki bulan suci Ramadan, Rabu (18/2/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Bunyi tabuh beduk menggema dari atas Menara Kudus pada Rabu (18/2/2026) sore. Bunyi menimbulkan resonansi suara ‘dang’ tersebut menjadi penanda masuknya bulan suci Ramadan.

Sebelum beduk ditabuh, terdapat prosesi ziarah bersama di Makam Sunan Kudus yang terletak di belakang Masjid Al-Aqsa atau yang sering disebut Masjid Menara.

Ziarah ini diikuti oleh warga di sekitar Menara Kudus dan sejumlah pejabat Pemkab Kudus.

Baca juga: Taj Yasin Tinjau Sumur Resapan di Kudus: Cegah Genangan

Seusai berziarah, barulah mereka berkumpul di bawah Menara Kudus. Sebelum beduk ditabuh, seorang sesepuh KH Saifuddin Luthfi mengabarkan bahwa sore itu merupakan akhir bulan Syakban pada tahun 1447 hijriah. 

Artinya, memasuki waktu magrib sudah masuk bulan Ramadan.

Pengumuman awal datangnya Ramadan itu ditutup dengan doa. Selebihnya, terdapat delapan pria mengenakan sarung batik, baju putih, dan ikat kepala batik mulai menapai tangga naik ke Menara Kudus.

Sesampainya di atas, barulah beduk itu ditabuh untuk mengiringi senandung selawat yang didendangkan oleh para lelaki tadi.

Beduk yang menimbulkan suara ‘dang’ saat ditabuh itulah yang kemudian melahirkan tradisi dandangan di Kudus.

Kata dandangan ini berangkat dari onomatope suara beduk yang resonansinya menimbulkan suara nyaring: dang!

Dari sinilah kemudian suara bedug penanda awal Ramadan disebut dandangan.

Tradisi dandangan atau penanda awal bulan suci Ramadan ini dipercaya sudah ada sejak era Sunan Kudus atau yang juga dikenal Ja’far Shodiq.

Tradisi itu terus dilestarikan sampai saat ini. Belakangan, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat tradisi dandangan ini sebagai warisan budaya tak benda.

Baca juga: Persiku Kudus Hanya Mampu Bawa Pulang 1 Poin dari Balikpapan

Momentum menabuh beduk dandangan ini menyita perhatian sejumlah warga Kudus. Mereka umumnya datang secara khusus untuk menyaksikan tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun tersebut. 

Satu di antara warga yang dayang yaitu Islamiyati. Perempuan 28 tahun asal Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo tersebut menilai tradisi dandangan merupakan momentum yang cukup unik.

“Meski saya orang Kudus, ini malah baru pertama kali menyaksikan tradisi ini secara langsung. Katanya ini menandakan kalau memasuki bulan Ramadan,” kata Islamiyati.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved