Eksklusif

Siswa SMAN 6 Semarang Dipukuli Guru Ekstrakurikuler Basket hingga Luka-luka

Siswa SMAN 6 Semarang Dipukuli Guru Ekstrakurikuler Basket hingga Luka-luka dan trauma berat

Siswa SMAN 6 Semarang Dipukuli Guru Ekstrakurikuler Basket hingga Luka-luka
Net
Ilustrasi penganiayaan 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang siswa inisial S mendapat perlakuan menyakitkan. Dia dipukuli oleh guru ekstrakurikuler basket SMAN 6 Semarang inisial G. Akibat kejadian itu, S trauma berat, dan mendapat beberapa jahitan pada luka-luka karena pemukulan.

Kejadian itu bermula ketika Rabu 2 Agustus, siswa inisial S terlambat datang ke lapangan basket karena masih mengikuti pelajaran di dalam kelas. "Selesai pelajaran di kelas. Anak saya salat Ashar dulu. Lalu ganti baju," kata DH orangtua S memaparkan kronologi kejadian kepada tribunjateng.com.

Sampai di lapangan, ekstrakulikuler basket sudah berjalan. Siswa kelas X itu kemudian diminta G (guru) untuk lari cepat. Kemudian S lari lebih cepat lagi sampai harus melewati teman-temannya..

"Anak saya mengikuti arahan pelatih. Tapi kemudian dia motong jalur lari. G lalu bilang kalau tidak niat pulang saja," kata DH, orangtua siswa S hari Selasa (29/8) di kantor Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

S lantas mengambil tas dan menghampiri G untuk berpamitan. "Anak saya lalu menjulurkan tangan untuk bersalaman. Tapi lama tidak direspon G. Lalu anak saya menepuk pundak G karena niat bersalaman tidak direspon. Ketika itu G memukul anak saya hingga luka di telinga kanan," bebernya.

Tidak hanya sekali, G lalu memiting S dan kembali memukulnya berulang kali. "Luka cukup parah sampai lukanya dijahit lima jahitan. Kemudian kami melapor ke sekolah," tandasnya.

Sayangnya, pihak sekolah lamban memediasi orangtua dengan pelaku. Selama tiga hari ditunggu, mediasi tak kunjung dilakukan. DH pun lantas melaporkan kasus tersebut ke Polrestabes Semarang.

"Baru Senin (7/8) dilakukan mediasi. Saya terpaksa mencabut laporan sehari kemudian," katanya..

Adanya laporan ke Polrestabes tersebut, siswa tersebut mendapat ancaman dan perisakan (bullying) dari kakak kelas. "Anak saya dibully, diancam, di SMS, dan disindir-sindir. Dibilang banci lah, dibilang gentho. Karena itu anak saya sudah tidak masuk empat hari ini. Anak saya trauma berat. Anak saya berubah drastis. Tetap belajar di rumah tapi sambil meneteskan air mata. 'Kenapa saya dibeginiin' dia bilang begitu. Lihat lapangan basket saja dia ngga kuat," tuturnya.

DH berharap kasus anaknya menjadi pelajaran bagi pihak sekolah untuk selalu mengawasi kegiatan muridnya termasuk saat kegiatan ekstrakulikuler. "Kalau nggak kami laporkan, pihak sekolah tidak tahu. Kegiatan ekstrakulikuler kan masih di lingkungan sekolah. Masih menjadi tanggung jawab sekolah," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: galih permadi
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved