Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Jembatan Bambu Keluarga Darno Turun Temurun Bantu Warga Melintas Demak-Kudus Ratusan Tahun

Jembatan penghubung antara Desa Kedungwaru Demak dan Desa Setrokalangan Kudus dibuat keluarga Darno turun-temurun.

Tayang:
Penulis: Moch Saifudin | Editor: suharno
TRIBUN JATENG/MOCH SAIFUDIN
Pengendara yang melintas di Jembatan Sungai Wulan di perbatasan Desa Kedungwaru Lor Demak dan Desa Sentrokalangan Kudus. 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Jembatan penghubung antara Desa Kedungwaru Lor Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak dan Desa Setrokalangan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus membantu ratusan pengendara dan pejalan kaki yang melintasinya setiap hari.

Jembatan yang terbuat dari bambu yang melintang di atas Sungai Wulan ini memiliki panjang dan lebar sekira 50 x 1,5 meter.

Pengendara sepeda motor pun harus bergantian saat melintas di jembatan tersebut.

"Jembatan pertolongan ini dipasang hanya ketika musim kemarau. Sekira awal Agustus lalu, saya memasangnya," jelas initiator jembatan, Darno, Senin (2/8/2019).

Kisah Wanita di Kemijen Semarang yang Tinggal di Tengah Tumpukan Sampah, Tidur Bersama Kambing

Gelandang PSIS Semarang Ini Diminati Badak Lampung FC dan Persebaya Surabaya

Perampok Minimarket Seret Lalu Lucuti Pakaian Para Karyawan, Gondol Uang Rp 20 Juta

Ada Bercak Sperma di Mayat Korban, Remaja Suku Baduy Ini Diduga Diperkosa Lalu Dibunuh

Selain itu, pengendara dari arah Demak harus menuruni jalan menurun sekira belasan meter.

Nampak pengendara yang berboncengan membuat sang pembonceng harus jalan kaki terlebih dahulu untuk melintasi jalan tersebut.

Darno menjelaskan saat musim penghujan, jembatan tidak dipasang lantaran debit air yang tinggi di Sungai Wulan tersebut.

Ia menyebut, banyak dahan dan pepohonan terbawa arus dari hulu menuju hilir sungai saat musim penghujan.

"Kalau musim penghujan, saya membantu menyeberangkan pejalan kaki dan pengendara menggunakan perahu tarik," jelas Darno, warga Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus.

Ia menjelaskan, jembatan pernah tidak dipasang selama delapan bulan.

Kemudian banyak warga yang protes, terutama pabrik Djarum, lantaran kerapkali telat saat masuk kerja.

Ia menyebut, pengendara harus memutar sekira 15 kilometer jika berangkat kerja lewat jalan raya.

Ia menyebut, jembatan ramai pengendara melintas saat jam berangkat kerja, pukul 05.30 dan 12.30 WIB.

Darno (42) menjelaskan, telah membantu menyeberangkan orang menggunakan perahu tarik sejak ia berumur 6 tahun.

Hal tersebut ia lakukan selama turun-temurun dari ayahnya. Ia menyebut sekira seratusan tahun.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved