Breaking News:

Cerita Pasukan Denmark Pasrah Sembunyi di Bunker saat Pangkalan Militer AS Digempur Rudal Iran

Pasukan Denmark bersembunyi saat serangan rudal Iran menggempur pangkalan militer AS di Ayn al-Asad Provinsi Al Anbar, Irak

Editor: m nur huda
www.thedefensepost.com/US Marine Corps/Cpl. Cansin P Hardyegritag
Pasukan Kerajaan Denmark yang tergabung pasukan koalisi AS dan NATO melatih tentara Irak di pusat training di Pangkalan Ayn al-Asad. Al Anbar pada 9 Mei 2015. 

Sersan John menambahkan, semua materi pelatihan militer yang ia dapatkan terasa tidak berguna dalam situasi genting itu.

BREAKING NEWS: Kecelakaan Truk Muat Pupuk Tabrak Pondasi Rumah di Semarang, Sopir Luka Parah

Pemprov DKI Jakarta Akan Wajibkan Warga Beli Mobil Baru Bawa Surat Punya Garasi dari Kelurahan

Koresponden TV2 mewawancarai Sersan John dan beberapa prajurit Denmark lainnya di Kuwait, setelah pasukan Denmark dievakuasi ke negara itu sesudah serangan Iran.

Sumber yang dikutip TV2 Denmark, kontingen Denmark menerima informasi Iran akan menyerang sekurangnya enam jam sebelum operasi militer itu benar-benar dilaksanakan.

Video serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di Irak beredar di media sosial. Puluhan rudal jelajah diluncurkan
Video serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di Irak beredar di media sosial. Puluhan rudal jelajah diluncurkan (Twitter)

Informasi itu diterima dari otoritas level tinggi di pemerintahan dan Kementerian Pertahanan Denmark. Karena tidak tahu kapan serangan persisnya terjadi, penyelamatan langsung dilakukan begitu kabar diterima.

Semua prajurit Denmark mengamankan diri ke bunker di komplek pangkalan Ayn al-Asad. Ini kawasan militer yang ditempati ribuan prajurit AS dan koalisi internasional.

Pangkalan udara ini juga menjadi basis helikopter serbu Apache AH-64, pesawat nirawak militer MQ-9 Reaper maupun Predator.

“Kami sungguh-sungguh hanya duduk sepanjang waktu, menunggu hingga semua selesai. Aku tidak tahu persis berapa lama kami menunggu, tapi pastinya berjam-jam,” lanjut Sersan John.

Ketika rudal-rudal menghantam pangkalan Ayn al-Asad, dinding dan atap bunker bergetar. Gemuruh terdengar di permukaan, dan debu memenuhi ruang persembunyian.

“Kami semua mengenakan masker atau kain penutup hidung atau wajah, dan susah saat bernapas,” kata John sembari menambahkan nyaris semua prajurit di pangkalan itu saat itu seperti lumpuh tak berdaya.

“Kita semua tidak tahu, seberapa dekat posisi kita dengan rudal yang jatuh. Juga kita tidak tahu serangan berlanjut atau berhenti,” lanjut John.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved