Wabah Virus Corona
Warga Shenzhen China Mulai Dilarang Jual Beli serta Santap Daging Anjing dan Kucing
Di China, Shenzhen merupakan kota pertama yang melarang penjualan daging kucing dan anjing.
TRIBUNJATENG.COM, CHINA - Di China, Shenzhen merupakan kota pertama yang melarang penjualan daging kucing dan anjing.
Kedua hewan itu juga dilarang untuk dijadikan santapan.
Pelarangan ini mengemuka setelah wabah virus corona dikaitkan dengan daging hewan liar, yang mendorong aparat China melarang penjualan dan konsumsi satwa liar.
• Luhut Pandjaitan Dapat Bisikan Kabar Baik dari Ilmuwan : Prediksi Corona di Indonesia Berakhir April
• Ditetapkan ODP Virus Corona Setelah Didatangi Petugas Puskesmas, Komisioner Ombudsman RI Protes
• Rapid Test Kedua Dilakukan pada 144 Jemaah Masjid Kebon Jeruk, Jumlah Positif Virus Corona Bertambah
• Disebut Pencitraan saat Pandemi Virus Corona, Hengky Kurniawan: Itu Biasa
Shenzhen selangkah lebih maju dengan memasukkan daging anjing dan kucing ke dalam daftar larangan.
Aturan baru ini akan berlaku mulai 1 Mei mendatang.
Sebanyak 30 juta anjing dibunuh setiap tahun di Asia untuk disantap, berdasarkan data Humane Society International (HSI).
Akan tetapi, praktik menyantap daging anjing di China bukan hal lumrah—mayoritas warga China mengaku belum pernah makan daging anjing dan tidak mau memakannya.
"Sebagai hewan peliharaan, anjing dan kucing membentuk hubungan lebih dekat dengan manusia ketimbang hewan-hewan lainnya, dan melarang konsumsi anjing, kucing, dan hewan-hewan peliharaan lainnya adalah praktik umum di negara-negara maju dan di Hong Kong dan Taiwan," sebut pernyataan pemerintah Kota Shenzhen, sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters.
"Pelarangan ini juga merupakan tanggapan atas tuntutan dan semangat peradaban manusia," tambah pernyataan tersebut.
HIS, selaku organisasi pelindung satwa, mengapresiasi langkah itu.
"Ini benar-benar bisa menjadi momentum dalam upaya mengakhiri perdagangan brutal yang menewaskan sekitar 10 juta anjing dan 4 juta kucing di China setiap tahun," ujar Dr Peter Li, spesialis kebijakan China dari HSI.
Meski demikian, pada saat bersamaan ketika aturan pelarangan ini dikemukakan, China menyetujui penggunaan empedu beruang untuk menangani pasien-pasien Covid-19.
Empedu beruang ini, yang diambil dari sistem pencernaan beruang yang hidup di penangkaran—telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional China.
Elemen yang terkandung di dalam empedu beruang, asam ursodeoksikolat, dipakai untuk menghancurkan batu empedu dan menangani penyakit liver.
Namun, tidak ada bukti pengobatan itu efektif melawan virus corona dan proses pengambilannya sangat menyakitkan bagi hewan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/petugas-medis-di-ruang-isolasi-virus-corona-di-rumra.jpg)