Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Virus Corona Jateng

Ketidakjujuran Pasien dan Data yang Bias Perparah Penyebaran Virus Corona di Jateng

Data di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga Sabtu (4/4/2020) ada 120 kasus pasien positif virus corona Covid-19.

Tayang:
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muh radlis
IST
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Negeri Semarang (Unnes), Cahyo Seftyono 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Data di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga Sabtu (4/4/2020) ada 120 kasus pasien positif virus corona Covid-19.

Dari jumlah itu, 18 di antaranya meninggal dunia, 91 masih mendapatkan perawatan, dan 11 berhasil sembuh.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Negeri Semarang (Unnes), Cahyo Seftyono, menuturkan penerapan kebijakan yang tepat harus berdasarkan data atau policy base evidence.

Viral Ojol 59 Tahun Antar Penumpang Purwokerto-Solo Sejauh 230 Km, Tertipu hanya Ditinggali Sandal

Dikritik soal Pembebasan Koruptor, Yasonna Laoly Labrak Najwa Shihab: Suudzon Banget Sih Provokatif

Update Corona 5 April 2020 Dunia: Indonesia Peringkat 37 Persis di Bawah Arab Saudi

Warga Ngeyel Ramaikan Jalan Kota Semarang, Hendi: Kalau Seperti Ini Sebaran Corona Tak Selesai

Namun, kata dia, terjadi bias data dan informasi yang ada di masyarakat sehingga penerapan kebijakan yang diharapkan dapat menekan jumlah kasus malah tidak berjalan optimal.

"Dalam politik kebijakan, saat ini ada yang namanya bias data dan bias informasi di ruang publik.

Ketika pemerintah berusaha menggunakan bukti dalam kebijakan, sering kali ada yang bolong.

Nah yang bolong ini yang berbahaya.

Ini yang membuat kocar kacir pemerintah," tegasnya ketika dihubungi.

Lambatnya pemerintah mengetahui hasil spesimen dan penetapan status pasien yang membuat bias data dan informasi muncul.

Hal itu terjadi karena kurangnya persiapan pemerintah untuk memenuhi sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan untuk menghadapi Covid-19 ini.

"Jika pasien ada di kota besar seperti Jakarta, Semarang, Jogja, oke lah karena peralatan kesehatannya lengkap.

Bayangkan kasus yang terjadi di daerah kecil, Cilacap, Purworejo dan sebagainya, mereka tidak terdeteksi dengan cepat.

Alat dan tenaga kesehatan tidak memadai," terangnya.

Keterlambatan hasil pemeriksaan spesimen pasien, kata dia, membuat potensi penyebaran corona semakin meluas.

Apakah dengan alat rapid test bisa menyelesaikan masalah itu?

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved