Breaking News:

Bea Cukai Tanjung Emas

Bea Cukai Bukan Sekadar Memberi Pelayanan Tapi Juga Melindungi Masyarakat Dari Barang Ilegal

Anton Martin beri gambaran terkait proses bisnis bea cukai di lapangan selama masa pandemi Covid-19 kepada para mahasiswa, Selasa (09/06).

IST
Anton Martin memaparkan materi kepada peserta Kuliah Umum PKN STAN 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penuhi undangan Permintaan Narasumber Kuliah Umum Penegakan Hukum Kepabeanan dan Cukai II dari Politeknik Keuangan Negara STAN, Anton Martin memberi gambaran terkait proses bisnis bea cukai di lapangan selama masa pandemi Covid-19 kepada para mahasiswa, Selasa (9/6).

Selain menunjuk Anton Martin, kuliah umum yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Video Conference tersebut juga menghadirkan narasumber lain yaitu Agus Wahyono yang merupakan Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Wilayah DJBC Jakarta.

Dengan Tema “Tantangan Penegakan Hukum Kepabeanan dan Cukai di Tengah Pandemi COVID-19” kuliah umum tersebut sukses diikuti oleh 200 mahasiswa PKN STAN dari Prodip III Kepabeanan dan cukai. 

Bertindak sebagai narasumber pertama Agus Wahyono memberikan paparan tentang fungsi bea cukai sebagai Community Protector yaitu melindungi masyarakat dari barang barang yang berbahaya.

Meskipun berada di bawah kementerian keuangan, Bea Cukai memiliki perbedaan dengan instansi lain di bawah kementerian keuangan karena tugas dan fungsi tersebut.

“Undang Undang Kepabeanan dan Cukai bukan merupakan Undang Undang Pidana, tetapi undang undang kepabeanan dan cukai adalah Undang undang fiskal yang bersanksi pidana, untuk itu tujuan utamanya adalah mengembalikan atau merestore keadilan bagi negara yaitu dhanapala recovery yang diantaranya termaktub dalam UU Cukai pasal 59 dan UU kepabeanan pasal 110 ”,tutur Agus Wahyono

Anton Martin juga menambahkan dalam paparannya bahwa sebagai bea cukai kita di tuntut untuk memberikan pelayanan yang professional dengan kerja cepat dan akurat karena hal tersebut berkaitan dengan distribusi barang yaitu ekspor dan impor.

Namun meskipun demikian pelayanan yang profesional tersebut tidak lantas mengesampingkan aspek pengawasan.

“Apalagi di masa pandemi yang sulit seperti ini, kita dituntut untuk bekerja yang lebih efektif dan efisien dibanding dengan hari hari biasa, baik untuk sektor pelayanan maupun pengawasan ,terlebih kita juga dituntut untuk mengikuti himbauan pemerintah tentang protokol penanganan pandemi Covid-19 seperti Work From Home, physical distancing dan social distancing”, papar Anton Martin.

Anton Martin juga menjelaskan bahwa sebagai bea cukai kita tidak hanya ditempatkan di daerah yang memiliki pelabuhan atau bandara saja, Bea Cukai juga memiliki tempat tugas lain seperti di perbatasan atau border dari Indonesia.

Berbeda dengan bea cukai yang berada di pelabuhan dan bandara yang lebih berfokus pada aspek pelayanan, bea cukai yang berada di border Indonesia atau di pangkalan sarana operasi memiliki fokus pada pengawasan barang barang illegal yang akan masuk ke dalam Indonesia.

“Untuk itulah kita tidak sama dengan instansi lain di bawah kementerian keuangan. Kita tidak hanya dituntut untuk cerdas saja tapi juga harus memiliki fisik yang kuat untuk melawan para penyelundup yang hendak membawa barang illegal masuk ke Negara tercinta kita”, tutup Anton Martin. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved