PPDB 2020
Anak Relawan Covid-19 di Kudus, Kesulitan Memperoleh Sekolah Negeri
nak tenaga kesehatan memperoleh jalur khusus atau prioritas dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020. Namun tidak bagi relawan BPBD
Penulis: raka f pujangga | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Anak tenaga kesehatan memperoleh jalur khusus atau prioritas dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020.
Namun tidak bagi relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus yang membantu pemulasaraan pasien covid-19.
Justru kesulitan menyekolahkan anaknya di sekolah negeri karena hanya tenaga kesehatan yang memperoleh prioritas.
Satu di antaranya Cahyono (38), warga Mlati Lor, Kabupaten Kudus, yang tengah berupaya mendaftarkan anaknya Sagita Eka Novita (16) ke SMKN 1 Kudus.
Cahyono juga meminta surat keterangan dari BPBD Kabupaten Kudus agar bisa memperoleh satu kursi.
Sayangnya, surat keterangan yang diharapkan dapat membantunya tersebut itu ternyata tidak laku.
"Surat sudah saya bawa ke sekolah, kalau saya ikut terlibat membantu penanganan covid-19. Tapi ternyata tidak bisa," ujar dia, saat ditemui di kantor BPBD Kabupaten Kudus, Jumat (26/6/2020).
Menurut dia, pihak sekolah menolak karena daftar nama yang berperan menangani covid-19 atas rekomendasi Dinas Kesehatan Kudus yang diusulkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pasalnya, kata dia, sekolah setingkat SMA merupakan kewenangan dari Pemprov Jawa Tengah.
"Arahan dari sekolah tidak ada. Hanya bilang nama-nama yang menangani covid sudah diusulkan ke Pemprov Jateng, dan itu hanya tenaga kesehatan," ujar dia.
Padahal, anaknya memiliki prestasi karena pernah meraih juara tingkat Jawa Tengah dalam olahraga sepatu roda sekitar dua tahun yang lalu.
Sayangnya memiliki prestasi dan orang tua yang berjasa dalam penanganan covid-19 itu tidak menjadi jaminan mendapat kesempatan bersekolah negeri.
Dia juga masih bingung mencari sekolah, dan berencana akan memasukkan anaknya ke sekolah swasta.
"Belum tahu ini nanti sekolah dimana, mungkin kalau tidak dapat sekolah negeri. Kemungkinan saya sekolahkan di swasta," jelasnya.
Biarpun telah berjasa membantu pemulasaraan covid-19, dia pun tak kecewa karena semua yang dilakukannya selama ini membantu pasien itu ikhlas.
"Saya tidak kecewa, ya sudah kalau tidak diterima di sekolah negeri," ujar dia.
Sementara itu, Koordinator Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Kabupaten Kudus, Budi Yuwono menjelaskan, masih ada beberapa anggota relawan yang kesulitan mencari sekolah untuk anaknya.
Dia meminta kepada stakeholder dapat membantu para relawan yang kesulitan mencari sekolah negeri untuk anaknya.
"Masih ada relawan yang kesulitan mencari sekolah anak," ujar pria yang akrab disapa Mbah Bejo.
Padahal, selama ini relawan tersebut ikhlas membantu pemulasaraan jenazah covid tanpa mendapatkan upah.
Belum lagi, aksi para relawan yang tidak mendapatkan honor tersebut tengah menjadi perhatian Gugus Tugas Nasional.
"Semalam informasinya kami akan mendapatkan penghargaan yang diserahkan secara virtual, tetapi ditunda karena kami sedang memakamkan jenazah," jelasnya.
Dia mengaku senang memperoleh penghargaan tersebut karena itu berarti ada pengakuan dari pemerintah atas kerja keras mereka.
Namun pihaknya juga meminta kebutuhan para relawan untuk bisa anak-anaknya bersekolah di negeri dapat perhatian.
"Kami senang mendapat penghargaan itu, berarti ada pengakuan atas apa yang sudah relawan kerjakan," ujarnya. (raf)
• AKBP Cristian Berlutut Beri Bingkisan Lansia Wonogiri, Berbagi Kebahagiaan HUT ke-74 Bhayangkara
• Walikota Solo: Anak di Bawah 15 Tahun Dilarang ke Mall dan Tempat Wisata
• Krebo Balas Aksi Pembakaran Bendera PDI Perjuangan
• Jadi Mualaf, Marcell Darwin Nyaman Belajar Islam dari 2 Orang Ini