Forum Guru

Forum Guru Nelul Azmi : Waspada Pembelajaran Daring

Pemerintah melalui Kemendikbud memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh bagi sekitar 94% bagi siswa di semua daerah di zona merah, oranye, dan kunin

IST
daring 

Oleh Nelul Azmi, S.Pd

Guru SDI Al Azhar 29 BSB Semarang

Pemerintah melalui Kemendikbud memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh bagi sekitar 94% bagi siswa di semua daerah di zona merah, oranye, dan kuning. Kemudian sebesar 6% sisanya di zona hijau diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah dengan protokol kesehatan yang ketat.

Tahun ajaran baru akan segera dimulai 13 Juli nanti dan akan menggunakan sistem daring (dalam jaringan) atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Pembelajaran daring seperti yang kita ketahui merupakan pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung dengan menggunakan perangkat pembantu berupa telepon pintar, tablet, dan laptop atau komputer yang sering kita sebut dengan istilah gawai yang terkoneksi dengan internet.

Pemerintah memproyeksikan pembelajaran daring akan berlangsung sampai akhir tahun 2020, hal ini berarti anak akan belajar dari rumah kurang lebih selama satu semester kedepan. Langkah ini diambil tentunya bertujuan untuk meminimalisir dan memutus mata rantai Covid-19 khususnya anak-anak yang dianggap rentan terhadap paparan virus.

Kita semua terutama pihak sekolah dan orang tua perlu menyiapkan inovasi baru dan strategi khusus dalam pembelajaran daring. Jangan sampai alih-alih melakukan pembelajaran jarak jauh justru dapat mengakibatkan berbagai macam dampak negatif pada anak. Tentu hal tersebut tidak ingin terjadi pada buah hati kita bukan?

Ketika anak-anak melakukan pembelajaran daring, itu artinya anak akan berinteraksi dengan gawainya selama berjam-jam. Bukan tidak mungkin dengan sistem daring anak-anak akan menjadi kecanduan terhadap gawainya. Tidak sedikit anak usia sekolah dasar sampai usia remaja sudah dibekali gawai sendiri oleh orang tuanya. Memang tidak sepenuhnya salah terlebih dalam situasi seperti sekarang ini.

Banyak cara bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mencegah anak-anak kecanduan gawai di masa-masa pembelajaran daring/PJJ antara lain yaitu.

Pertama, kenali gejalakecanduan pada anak. Jika anak tidak bisa lepas dari gawai dalam waktu yang lama dan cenderung gelisah bahkan memberontak. Itu artinya ada indikasi anak mulai kecanduan gawai, apabila sudah menunjukkan dampak yang serius ajaklah anak anda konsultasi dengan dokter anak ataupun psikolog anak, namun apabila masih ringan cukup dengan stimulus positif dari orang tua.

Kedua, buatlah kesepakatan pengunaan gawai. Orang tua haruslah mempunyai kuasa penuh pada anak, bukan sebaliknya. Ketegasan orang tua sangat diperlukan, diskusikan dengan anak tentang waktu dibolehkan dan tidak diperbolehkan membuka gawai. Biasanya sekolah akan memberikan jadwal PJJ pada waktu tertentu saja, apabila tidak ada segera bangun komunikasi dengan sekolah karena itu termasuk hak yang harus diberikan sekolah. Jadi anda bisa mulai membatasi penggunaan gawai pada anak, terlebih jika anda tidak bisa mengawasi anak di rumah dengan maksimal karena kesibukan di tempat kerja.

Ketiga, batasi penggunaan internet di rumah. Settinglah batas penggunaan wifi, modem atau paket internet lain. Ini cukup efektif untuk membatasi penggunaan internet pada anak berselancar di dunia maya misalnya bermain game onlineataupun sosial media. Berdasarkan pengamatan penulis, anak laki-laki lebih sering menggunakan gawainya untuk bermain game sedangkan anak perempuan lebih sering menggunakan untuk sosial media terlebih pada usia remaja di mana mereka ingin mencari jati diri dan diakui orang lain.

Keempat, berikan reward. Sitem pemberian reward bisa menjadi solusi menarik bagi orang tua dan anak, lho! Anda bisa memberikan reward sederhana misalkan dengan memberi makanan ringan kesukaan anak apabila berhasil mengontrol pemakaian gawainya dengan baik. Tapi ingat cara ini bukan untuk diterapkan setiap saat karena akan menimbulkan masalah baru tentunya.

Kelima, melakukan kegiatan menarik dengan anak. Salah satu alasan anak bermain gawai adalah tidak adanya aktifitas lain yang dapat dilakukan. Luangkan waktu anda dengan anak melakukan kegiatan baru yang menyenangkan seperti bersepeda, membaca buku, ataupun kegiatan ringan lainnya yang sekiranya bisa mengalihkan perhatian anak pada gawai.

Keenam, berilah contoh yang baik. Cara ini sangatlah efektif dan urgentkarena anak akan mengalami proses imitasi atau meniru dari apa yang dia lihat. Sepatutnya orang tua bisa memberikan contoh positif pada anak dengan mengurangi pemakaian gawai ketika di rumah terkecuali untuk keperluan yang sangat penting seperti urusan pekerjaan. Rasanya sulit anak akan bisa menurut perintah kita apabila kita sendiri tidak bisa melakukannya.

Teknologi tidak selalu memberikan dampak negatif, semua kembali lagi bagaimana kita mengendalikannya. Termasuk penggunaan gawai oleh anak pada masa pembelajaran daring. Sudah saatnya Indonesia melakukan transisi di bidang teknologi tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Melalui pembelajaran daring diharapkan kita dapat mempersiapkan generasi muda yang melek teknologi dan siap untuk bersaing pada era industri 4.0 secara global melalui usaha integrasi berbagai pihak. (*)

Viral Emak-emak Wisatawan Diusir dari Pantai Karena Bawa Bekal Sendiri

Kasus Positif Covid-19 di China Melonjak, 400.000 Warga Kota Anxin Dikarantina

Angga Wijaya Akui Egois: Buat Traktir Makan Dewi Perssik Masih Mikir Takut Uang Habis

Berikut Prakiraan Cuaca BMKG di Kabupaten Pekalongan, Selasa 30 Juni 2020

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved