Berita Jateng
Angka Anak Putus Sekolah Diprediksi Naik di Tengah Pandemi Covid-19
Kondisi di tengah pandemi Covid-19 diprediksi akan menambah jumlah anak putus sekolah.
Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kondisi di tengah pandemi Covid-19 diprediksi akan menambah jumlah anak putus sekolah.
Pasalnya, pandemi menyebabkan kondisi perekonomian masyarakat terus bergejolak.
Hal itu akan membuat wali murid semakin terbebani untuk membiayai pendidikan bagi pelajar.
• Mengapa Malam Ini Wilayah Jateng dan Yogyakarta Diguyur Hujan? Ini Jawaban BMKG
• Suasana Duka Selimuti Kediaman KH Ahmad Naqib Noor AH di Semarang
• Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai Diganti, Kini Dijabat Mantan Dirreskrimsus Polda Lampung
• Pegawai Swasta Ramai-ramai Buka Rekening, BCA Kudus Kebanjiran Permohonan Nasabah Baru
Menurut data dari BPS Provinsi Jateng, angka putus sekolah mencapai 3.103 pada 2017.
Angka tersebut disumbangkan hanya dari di tingkat SD yang ada di beberapa wilayah.
Di katakan Wakil Sekretaris PGRI Provinsi Jateng, Ngasbun Egar, yang juga aktif sebagai Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jateng, pandemi akan berkontribusi pada kenaikan angka putus sekolah.
"Pastinya pelajar terdampak, karena banyak di antara wali murid yang kehilangan pekerjaan terutama yang bekerja di sektor informal karena pandemi," jelasnya kepada Tribunjateng.com melalui sambungan telpon, Rabu (12/8/2020).
Dilanjutkannya, angka putus sekolah pelajar yang menuntut ilmu di sekolah negeri atau yang dikover pemerintah kemungkinan relatif kecil.
"Namun bagi siswa yang menuntut ilmu diluar sekolah negeri kemungkinan akan berkontribusi ke angka putus sekolah lebih banyak," paparnya.
Dikatakan Egar, guna mengatasi hal tersebut harus ada upaya serius dari semua pihak.
"Pemerintah perlu mengalokasikan dana lebih besar untuk menopang keberlangsungan para pelajar agar tetap bisa bersekolah, baik saat pandemi maupun setelah pandemi," paparnya.
Menurutnya, bantuan terkait kuota untuk para pelajar merupakan upaya baik, namun pemerintah juga wajib memikirkan kebutuhan lainya untuk pelajar.
"Untuk di masa pandemi kuota internet memang sangat dibutuhkan, namun perlu juga dipikirkan stimulus lainya untuk pelajar setelah pandemi.
Supaya hak mendapatkan ilmu para pelajar tetap terpenuhi, serta menekan angka putus sekolah.
Sekolah juga diminta tidak menaikan biaya untuk para pelajar di masa-masa sulit terutama sekolah swasta," tambahnya. (bud)
• Pengamat Pendidikan Unnes Sebut Kurikulum Pembelajaran Era New Normal Belun Siap
• Pedagang Sayur di Kebumen Ini ke Masjid Hanya Untuk Curi Motor Jamaah
• KPK Minta Pemkot Salatiga Lunasi Piutang PBB Senilai Rp 15 Miliar
• Kegiatan Bintahwil Maritim Lanal Semarang, dari Bersihkan Kawasan Pesisir hingga Cegah Covid-19
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ngasbun-egar.jpg)