Breaking News:

Fatmi Kenalkan Logat Khas Daerah Lewat Pati Oblong

"Lalu adik saya mengajak saya untuk membuat cinderamata khas Pati yang bisa dibeli wisatawan dan kami pun sepakat mendirikan Pati Oblong,"

tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Pati Oblong di Jalan Diponegoro Nomor 61, Winong, Kabupaten Pati 

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Selalu ada ide bagi orang kreatif untuk mengenalkan ciri khas daerahnya kepada dunia luar. Sebut saja Fatmi Nurjanah (50) dan Ali Mahmudi (45), kakak beradik di Kabupaten Pati ini memiliki usaha bersama Pati Oblong.

Berada di Jalan Diponegoro Nomor 61, Winong, Pati mereka mendirikan usaha cinderamata khas Pati sejak tahun 2010. Diantaranya berupa kaus, tas, sandal, topi, dan gantungan kunci. Uniknya, semua item yang dijual menggunakan desain tulisan dialek lokal.

"Saya bagian menjual dan promosi. Sedangkan adik saya yang produksi sekaligus desain," kata Fatmi saat ditemui di distro Pati Oblong, Sabtu (22/8/2020) sore.

Ide pembuatan usaha Pati Oblong itu bermula ketika Fatmi sering berkunjung ke beberapa tempat wisata. Di situlah dia mendapat ide untuk mengangkat ikon khas daerahnya, setelah melihat aneka kerajinan atau kaus yang menggambarkan ciri khas tempat wisata yang dikunjungi.

"Lalu adik saya mengajak saya untuk membuat cinderamata khas Pati yang bisa dibeli wisatawan dan kami pun sepakat mendirikan Pati Oblong," tuturnya.

Pati Oblong sendiri memiliki empat tema untuk membuat desain dengan angkat topik terkait logat, sejarah, kuliner, dan objek wisata yang ada di Pati. Dengan slogan mereka yakni “Kenali Pati-em Lewat Kaos”. Kata “Pati-em” berasal dari dialek khas lokal berarti Pati-mu.

Jadi mereka ingin daerah Pati dikenal masyarakat luas melalui media kaus. Beberapa logat khas pun menjadi daya tarik tersendiri, seperti “pye leh?” (gimana sih?), “gagego” (cepetan dong), dan “sak karepem” (terserah kamu).

Fatmi menambahkan, sudah mempunyai pelanggan dari Dinas UMKM dan Koperasi Pati, teman-teman kantor, ibu-ibu arisan, dan perkumpulan lain. Selain itu, untuk pemasarnnya kebanyakan dilakukan dengan cara offline. Menurutnya, pembeli bisa memilih langsung sesuai selera. Jika online terkendala dengan stok barang. Karena setidaknya satu bulan ada dua konsep desain baru. Kemudian ia setorkan pada adiknya yang memproduksi kaus di Yogyakarta.

"Kendalanya jika online, banyak orang memilih kaus di Instagram namun barang tersebut sudah habis," kata Fatmi.

Selain itu, dalam menciptakan desain baru, ia berkoordinasi dengan pihak setempat seperti Dinporapar. Ia juga menerima saran dan masukan dari orang lain. Apabila menarik kemudian langsung ia tulis di catatan khusus. "Saya juga minta referensi dan masukan, kira-kira yang bisa diangkat dari Pati ini apa dengan media kaus," tutur dia.

Saat ini produk Pati Oblong bisa ditemukan di Pasar Pragolo Pati, The Safin Hotel Pati, wisata Jollong Pati dan yang terbaru di SMESCO (Galeri UMKM Se-Indonesia) di Jakarta. Di tokonya sendiri, buka setiap hari mulai pukul 09.00-21.00 WIB. Dalam sebulan, Fatmi mampu memproduksi 800 kaus. Biasanya mendapat pesanan dari Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Namun semenjak ada covid-19 pendapatannya menurun drastis. Maka dia pun mengubah desain. Yang dulu didominasi desain kopi kini dia keluarkan produk sajadah lipat dan baju koko. (Mahasiswa UIN Walisongo Magang Jurnalistik di Tribunjateng.com/Naghma Rangella L, Faricha Azizah).

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved