Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Fenomena Bulan Purnama Malam Ini Hanya Terjadi 3 Tahun Sekali, Ini Penjelasan Astronom

Fenomena Bulan purnama terjadi di tanggal-tanggal pertengahan bulan. Namun, untuk bulan September ini, fenomena Bulan purnama justru terjadi

Tayang:
Editor: galih permadi
kfk.kompas.com
ilustrasi bulan purnama 

TRIBUNJATENG.COM - Fenomena Bulan purnama terjadi di tanggal-tanggal pertengahan bulan. Namun, untuk bulan September ini, fenomena Bulan purnama justru terjadi di awal bulan.

Dilansir dari Live Science, Selasa (1/9/2020), fenomena bulan purnama di awal bulan ini hanya terjadi setiap tiga tahun sekali.

Pada September 2021 maupun 2022, bulan purnama akan terjadi di pertengahan bulan.

HOAKS Wali Kota Semarang dan Satpol PP Akan Gelar Razia Gerakan Disiplin Siswa

Di Balik Tugu Peringatan Kecelakaan, Ada Kisah Sedih Asrudin 2 Anaknya Tewas

Penipu Tak Sadar Berurusan dengan Anak Presiden, Kaesang Pangarep: Nanti ada yang Ketuk Rumah

Ini Alasan Joker dan 7 Anggota Gangster Cahaya Biru Pati Bacok Pemuda Hingga Tewas: Kondisi Mabuk

"Sebaliknya bulan purnama di awal bulan akan kembali terjadi pada awal September 2023," kata astronom amatir, Marufin Sudibyo, seperti dilansir dari Kompas.com, Rabu (2/9/2020).

Marufin berkata, berulangnya fenomena bulan purnama di awal bulan setiap tiga tahun sekali ini disebabkan oleh perbedaan durasi kalender Gregorian dengan kalender bulan.

Untuk diketahui, kalender Gregorian atau biasa juga disebut kalender Gregorius merupakan kalender yang paling banyak dipakai di dunia Barat. Kalender ini berbasis pada periode tropis matahari.

Nah, periode tropis matahari ini adalah rentang waktu yang dibutuhkan Matahari untuk bergerak dari sebuah titik Aries (vernal ekuinoks) menuju titik Aries berikutnya yang bersebelahan.

"Derivasinya ke dalam kalender menghasilkan durasi 365 hari atau 366 bila kabisat," ujarnya.

Sebaliknya, dalam kalender bulan, basisnya adalah periode sinodik bulan. Ini dimaksukan sebagai rentang waktu yang dibutuhkan Bulan untuk bergerak dari sebuah titik konjungsi ke titik konjungsi berikutnya yang bersebelahan.

"Periode sinodik itu rata-rata 29,5 hari," kata dia.

Dengan demikian derivasinya dalam kalender Hijriah akan menghasilkan durasi 354 hari atau 355 hari bila kabisat. Maka, tahun hijriyah selalu lebih cepat 10-11 hari dibanding tahun Gregorian. Lebih spesifik lagi, 36 bulan kalender Gregorian relatif setara dengan 37 bulan kalender hijriyah.

Mengingat durasi bulan kalender Gregorian umumnya 30 atau 31 hari, maka dapat diperhitungkan bahwa dalam sekitar tiga tahun, sebuah fenomena fase bulan seperti purnama atau perbani akan berulang pada tanggal yang sama atau berdekatan bagi kalender Gregorian.

"Inilah penyebabnya kenapa berulang setiap 3 tahun," ujarnya.

Catatan, fenomena Bulan purnama di awal bulan ini bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, dan tidak memiliki dampak tertentu apapun.(*)

Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Bulan Purnama Nanti Malam Hanya Terjadi Setiap 3 Tahun

Budi Penampar Perawat Dituntut 10 Bulan Penjara

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sragen Harus Sertakan Hasil Swab Test Saat Mendaftar

Kabar Gembira, 2 Pemain Asing PSIS Semarang Bakal Kembali Gabung Tim

Bantah Kota Semarang Tertinggi Covid-19, Hendi Tegaskan Pentingnya Sinkronisasi Data

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved