Breaking News:

Ternyata Begini Cara Bikin Slondok Singkong Khas Magelang

Slondok buatan Sumiyati sudah dipasok ke beberapa kota antara lain Magelang, Yogjakarta, Batam dan lain-lain. Namun sejak pandemi ini

tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Sumiyati memperkerkana tetangganya untuk membuat slondhok berbahan singkong, di Muntilan Kabupaten Magelang 

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Selain gethuk yang sudah legendaris di Kota dan Kabupaten Magelang, ada juga camilan khas daerah itu. Satu di antaranya adalah slondok. Getuk dan slondok sama-sama menggunakan bahan singkong atau ubi kayu. Keduanya kaya akan kandungan karbohidrat.

Singkong memang bisa diolah menjadi berbagai macam olahan, bisa dibikin tape, getuk, slondok, ceriping dan lain-lain.

Adalah Sumiyati (64) warga Karangrejo, Blongkeng, Muntilan Kabupaten Magelang menekuni produksi slondok dengan memanfaatkan potensi melimpahnya hasil singkong di daerahnya.

Slondok buatan Sumiyati di Muntilan Kabupaten Magelang
Slondok buatan Sumiyati di Muntilan Kabupaten Magelang (tribunjateng/mahasiswa UIN Magang)

Sumiyati sudah 38 tahun menekuni usaha yang menggunakan bahan dasar singkon ini. Slondok berbentuk seperti donat, sedangkan ukurannya ada yang kecil, sedang dan agak besar. Camilan khas Muntilan ini rasanya gurih, pedas, original renyah.

Slondok buatan Sumiyati sudah dipasok ke beberapa kota antara lain Magelang, Yogjakarta, Batam dan lain-lain. Namun sejak pandemi ini kondisi sedang sulit untuk memasarkan produk hingga ke luar kota.

Proses pembuatan slondok masih menggunakan cara dan peralatan tradisional. Suparman (65) suami Sumiati, mempekerjakan 12 orang karyawan. Lima untuk mengerjakan bagian dapur, dan tujuh orang karyawan membuat slondok mentah.

Pembuatan slondok yang menggunakan bahan singkong, dimulai dengan mengupas singkong. Pengupasan singkong ini dikerjakan oleh ibu-ibu tetangga Sumiyati. Imbalannya yaitu kulit singkong untuk mereka, yang kemudian untuk pakan ternak.

Singkong yang sudah dikupas bersih, dicuci lalu diparut pakai mesin parut. Hasil parutan singkong itu dimasukkan ke dalam karung untuk dipres, sekitar 30 menit.

Sesudah dipres parutan ketela diayak dan dicampur dengan bumbu. Adapun bumbunya, bawang putih, garam, ketumbar dan kemiri dapat juga ditambahi dengan cabai. Lalu adonan ubi kayu itu dikukus 10-15 menit. Dalam proses pengukusan pun Sumiati masih menggunakan tungku api.

Suparman menambahkan, setelah dikukus lalu parutan singkong itu digiling pakai penggiling slondok. Hasil gilingan tersebut dipotong sepanjang 10cm. Setelah itu, adonan yang sudah dipotong dibentuk melingkar seperti gelang dan diletakkan di derijen. Selanjutnya slondok mentah dijemur hingga kering dan siap untuk digoreng.

Biasanya mulai pukul 13.30 Sumiati dan karyawannya sudah memulai menggoreng slondok. "Mulai mengoreng habis jam istirahat hingga sore atau malam sesuai banyaknya pesanan," terang Suparman.

Dalam sehari karyawan Sumiyati dibayar Rp 70 ribu untu laki-laki, dan Rp 50 ribu untuk perempuan. Itu sudah dengan makan siang. Jika ada jam malam atau lembur makan akan ditambahi dengan uang. Dalam sehari Sumiyati bisa mengolah sekitar 5 kwintal, menggunakan 60an liter minyak dan 10 kilogram cabai. (Mahasisiwa UIN Walisongo Magang Jurnalistik di Tribunjateng.com/Faricha Azizah, Naghma Rangela L).

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved