Minggu, 10 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kisah Inspiratif Dokter Daniel Semarang Kembangkan Usaha Bandeng Presto Juwana Elrina

Dokter Daniel Nugroho Setiabudhi pendiri usaha bandeng presto Bandeng Juwana Elrina meninggal dunia dalam usia 86 tahun, Rabu (9/9/2020).

Tayang:
Editor: abduh imanulhaq
TRIBUN JATENG/WAHYU SULISTIYAWAN
Dokter Daniel Nugroho bersama karyawan bandeng presto Bandeng Juwana Elrina di Jalan Pandanaran, Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Dokter Daniel Nugroho Setiabudhi pendiri usaha bandeng presto Bandeng Juwana Elrina meninggal dunia dalam usia 86 tahun, Rabu (9/9/2020).

Pusat oleh-oleh Bandeng Juwana Elrina miliknya nyaris tak pernah sepi pembeli.

Siapa sangka, pada awalnya toko itu hanya mampu menjual tiga ekor bandeng presto dan Dokter Daniel harus berjibaku membangun Bandeng Juwana Group.

Kabar Duka, Dokter Daniel Pemilik Bandeng Presto Juwana Elrina Semarang Meninggal Dunia

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Seorang Mahasiswa Kecelakaan di Mijen Semarang Meninggal di RS 

Ternyata Ini Alasan Dohan Hajar Mbah Hasyim hingga Berlumurah Darah di Jalan Pemuda Semarang

Bupati Mirna Akui Gajinya Tak Cukup Bayar Mahar Partai

Berikut kami sajikan kembali wawancara Tribun Jateng dengan Dokter Daniel pada pertengahan Juli 2015 mengenai liku-liku kerja kerasnya mengembangkan bisnis kuliner yang inspiratif.

Apa yang mendorong Anda membuka usaha Bandeng Juwana Elrina padahal sudah berprofesi sebagai dokter?

Tidak punya duit. Terlintas dalam benak saya dan istri Ida Nursanty (alm) saat melihat tiga putri saya mulai beranjak dewasa. Saya membayangkan masa depan mereka tentu membutuhkan banyak biaya untuk pendidikan.

Sedangkan penghasilan dokter saat itu masih pas-pasan, apalagi dokter umum. Tidak seperti sekarang, mobil saja tidak punya. Jadi saya dan istri mencari usaha sampingan untuk mencukupi kebutuhan.

Mengapa Anda tertarik menjual produk bandeng duri lunak?

Niat awal ingin buka usaha bakery tetapi terkendala modal. Sehingga saya putar otak mencari usaha yang peluangnya besar dengan modal sedikit. Saat itu (1980) saya mengamati sekeliling rumah (Jalan Pandanaran 57 Semarang) dan melihat tujuh toko yang menjual bandeng di kawasan itu cukup ramai pembeli.

Muncullah ide membuat bandeng duri lunak. Modal awal buka usaha Rp 400 ribu, untuk membeli pressure cooker dan bahan lain.

Saya dan istri melakukan eksperimen selama tiga bulan untuk menemukan rasa bandeng duri lunak yang pas. Setiap hari memasak 1-5 kg ikan bandeng tetapi tidak dijual.

Hanya diberikan kawan-kawan agar mendapat masukan atau kritikan. Saya dan keluarga pun harus menikmati menu makanan ikan bandeng setiap hari selama tiga bulan.

Baru pada 3 Januari 1981 saya membuka usaha bandeng di teras rumah. Warung kecil itu saya buat persis di depan ruang praktik.

Hari pertama berjualan bandeng hanya laku tiga ekor. Bahkan saudara saya pesimistis usaha bandeng saya bisa maju.

Namun, saya dan istri tidak menyerah, karena yakin bandeng buatan kami akan diterima masyarakat. Perlahan pelanggan mulai berdatangan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved