Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Beda Hulu Beda Hilir, Riwayat Sungai Kupang Batang yang Hidupi Para Petani

Kali atau Sungai Kupang yang mengalir dari Pegunungan Dieng menuju, Kabupaten Batang menjadi sumber air penting bagi para petani

Tayang:
Penulis: budi susanto | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/Budi Susanto
Masyarakat memanfaatkan aliran Sungai Kupang, di wilayah Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang untuk mencuci baju, Senin (19/10/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Kali atau Sungai Kupang yang mengalir dari Pegunungan Dieng menuju, Kabupaten Batang menjadi sumber air penting bagi para petani.

Pasalnya, aliran Sungai Kupang mengaliri hampir seluruh areal persawahan di Kabupaten Batang, sebagian Kabupaten Pekalongan, dan Kota Pekalongan.

Sungai Kupang juga menjadi komponen penting dalam distribusi sumberdaya air bagi para petani.

Baca juga: Lagi, Kapal Vietnam Curi Ikan di Natuna Tertangkap Beserta 3 ABK

Baca juga: Seorang Pengacara Terperdaya Rayuan Janda Muda, Mengaku Seorang Bidan di Cirebon

Baca juga: Jokowi Mengutus Mensesneg Serahkan Naskah UU Cipta Kerja Ke NU dan Muhammadiyah

Baca juga: Motif Basmi Terduga Penghina Mantan Panglima TNI Moeldoko, Menuangkan Ide Ke Medsos

Warga memanfaatkan aliran Sungai Kupang, di wilayah Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang untuk mencuci baju, Senin (19/10/2020).
Warga memanfaatkan aliran Sungai Kupang, di wilayah Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang untuk mencuci baju, Senin (19/10/2020). (Tribun Jateng/Budi Susanto)

Hal itu tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Batang 2017-2022.

Tak hanya pada era sekarang, pada tahun 1960 hingga 1970 an, aliran Sungai Kupan pun menjadi hal vital bagi masyarakat Batang yang menempati Daerah Aliran Sungai (DAS) tersebut.

Menurut Muhammad Ikhsan (76), warga Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal, yang tinggal di DAS Kupang, tanpa sumber air dari Sungai Kupang pertanian di Batang tidak akan hidup.

"Dulu sangat bagus airnya, tidak hanya untuk pertanian bahkan dipakai untuk mencukupi kebutuhan air minum," katanya, Senin (19/10/2020).

Bendungan Sungai Kupang yang menjadi pemisah antara Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan, Senin (19/10/2020).
Bendungan Sungai Kupang yang menjadi pemisah antara Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan, Senin (19/10/2020). (Tribun Jateng/Budi Susanto)

Karena pemanfaatannya besar, aliran Sungai Kupang dijaga oleh masyarakat di wilayah Batang bagian atas, seperti di Kecamatan Wonotunggal, Blado, dan Bandar.

Jika aliran di hilir Sungai Kupang masih jernih, berbeda dengan aliran di sisi hulu atau aliran yang menuju ke laut.

Aliran Sungai Kupang pun berubah menjadi coklat dan dan beberapa tercemar limbah rumah tangga.

Beberapa warga menyayangkan kondisi tersebut, pasalnya aliran Sungai Kupang juga menjadi sumber penghidupan bagi para petani di hulu.

"Kalau di hulu ya begini kondisinya, kurang begitu jernih, bahkan kadang warna airnya coklat," papar Ahmad satu di antara warga Kecamatan Batang, yang juga tinggal di sekitar aliran Sungai Kupan.

Ia menerangkan, kemungkinan air tersebut tercemar lumpur dari galian yang ada di sepanjang aliran Sungai Kupang.

"Kalau benar-benar dijaga dan tidak ada yang mencemari, saya rasa akan lebih baik kualitas airnya. Sebenarnya pelestarian menjadi hal wajib, mengingat pemanfaatan air dari Sungai Kupang sangat banyak," jelasnya.

Menyoal menjaga kondisi DAS Kupang, beberapa komunitas di Kabupaten Batang telah melakukannya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved