Pesawat Sriwijaya Air Jatuh
Saya Ngga Ada Bakat Jadi Penerbang, Kenang Boy Ayah Kopilot Diego Korban Sriwijaya Air Jatuh
Diego yang berstatus Kopilot Sriwijaya Air SJ-182 ternyata merupakan lulusan terbaik angkatan pertama sekolah penerbangan NAM Flying School.
Saat dia pergi, kegiatan ibadah di dalam rumah terpantau masih berlangsung.
Sebelumnya, Diego menjadi satu dari enam awak pesawat yang hilang bersama dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air pada Sabtu (9/1/2021).
Pesawat tujuan Jakarta - Pontianak tersebut jatuh di perairan Kepulauan Seribu.
Sebelum jatuh, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sempat keluar jalur penerbangan, yakni menuju arah barat laut pada pukul 14.40 WIB.
Pihak Air Traffic Controller (ATC) kemudian menanyakan pilot mengenai arah terbang pesawat. Namun, dalam hitungan detik, pesawat dilaporkan hilang kontak hingga akhirnya jatuh.
Tim DVI Berpacu dengan Covid-19 di Ruang Jenazah
Pandemi Covid-19 turut memengaruhi kerja Tim Disaster Victim Identification (DVI) dalam proses identifikasi korban Sriwijaya Air SJ-182.
Dalam proses identifikasi yang dilakukan dengan mengumpulkan data antemortem (sebelum kematian) dari pihak keluarga dan posmortem (setelah kematian).
Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombes Ratna mengatakan pengambilan data posmortem yang dilakukan harus 'berpacu' dengan Covid-19.
Pasalnya posko posmortem Tim DVI berada di Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati yang ruangannya juga menangani jenazah pasien Covid-19.
"Karena masa Covid-19 ini kita tidak boleh terlalu lama di kamar jenazah. Sementara jenazah di rumah sakit ini pun ada yang jenazah Covid-19," kata Ratna di RS Polri Kramat Jati, Kamis (14/1/2021).
Data antemortem dan posmortem yang dicocokkan lewat serangkaian proses sebenarnya sama, meliputi sidik jari, riwayat medis pemeriksaan gigi, dan DNA.
Bedanya data antemortem didapat Tim DVI dari pihak keluarga inti korban yang datang menyerahkan, sementara posmortem diambil dari jenazah.
Khusus sampel DNA diambil dari bagian tubuh jenazah yang berhasil dievakuasi, baik jaringan otot, tulang, dan lainnya diekstrak guna mendapat DNA.
"Misalnya kami dapet 30 kantong (jenazah), 30 kantong harus kami kerjakan (periksa) hari itu juga. Kita tidak boleh terlalu banyak orang, tidak boleh terlalu lama, jaga jarak, durasi, gitu ya, ventilasi," ujarnya.
Ratna menuturkan dari tiga parameter identifikasi DVI, identifikasi lewat pencocokan sampel DNA butuh waktu paling lama dibanding dua lainnya.