Pesawat Sriwijaya Air Jatuh
Saya Ngga Ada Bakat Jadi Penerbang, Kenang Boy Ayah Kopilot Diego Korban Sriwijaya Air Jatuh
Diego yang berstatus Kopilot Sriwijaya Air SJ-182 ternyata merupakan lulusan terbaik angkatan pertama sekolah penerbangan NAM Flying School.
Sidik jari jadi prosedur identifikasi paling cepat karena bila bagian tangan ditemukan petugas mencocokan sidik jari dengan database e-KTP.
Serta data sidik jari korban termuat pada sejumlah dokumen penting yang diserahkan pihak keluarga, di antaranya ijazah, surat nikah, SIM, paspor.
"Bisa saja DNA antemortem dari keluarganya sudah ada. Tapi postmortemnya (jenazah) belum ada sehingga belum bisa dicocokkan," tuturnya.
Tim DVI yang melakukan identifikasi 62 korban Sriwijaya Air SJ-182 beranggotakan 306 tenaga ahli dari berbagai bidang, di antaranya kedokteran forensik dan gigi.
Hingga Kamis (14/1) pukul 17.00 WIB Tim DVI sudah mengidentifikasi 12 korban Sriwijaya Air SJ-182, dua di antaranya lewat pencocokan data sampel DNA.
Sementara sepuluh lain lewat pencocokan data sidik jari antemortem dan posmortem, dari keseluruhannya dua jenazah sudah diserahkan ke keluarga.
Tim DVI Lakukan Pemeriksaan Sampai Tak Ada yang Bisa Diperiksa
Tim Disaster Victim Identification (DVI) memastikan proses identifikasi korban Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak terus berjalan.
Sebagaimana pengumpulan data antemortem (sebelum kematian) dari pihak keluarga berupa sidik jari, riwayat medis pemeriksaan gigi, dan DNA.
Lalu posmortem (setelah kematian) yang dikumpulkan dari bagian tubuh jenazah hasil evakuasi petugas di perairan Pulau Seribu lokasi jatuhnya pesawat.
Kepala Tim Rekonsiliasi DVI Polri Kombes Agung Widjajanto mengatakan pencocokan data antemortem dengan posmortem terus berjalan.
"Kami masih berharap juga masih ada temuan (bagian tubuh) lagi, kami siap lakukan pemeriksaan sampai tidak ada yang diperiksa lagi," kata Agung di RS Polri Kramat Jati, Kamis (14/1/2021).
Data posmortem hasil evakuasi petugas penting karena setelah data antemortem dari pihak keluarga terkumpul data dicocokan dengan posmortem.
Bila salah satu data tidak lengkap maka proses identifikasi yang dilakukan Tim DVI tak bisa mengidentifikasi jenazah sebagaimana harapan keluarga.
DVI sendiri merupakan prosedur identifikasi korban bencana alam dan kecelakaan yang jenazah korbannya sudah tak bisa dikenali secara fisik.
"Kami Tim DVI, ahli forensik, gigi, dan ahli lainnya kami siap (pemeriksaan). Mudah-mudahan ada temuan (body part) lain sehingga keluarga dapat menerima keluargaya yang dinyatakan hilang," ujarnya.
Hingga Kamis (14/1) pukul 17.00 WIB Tim DVI sudah mengidentifikasi 12 korban Sriwijaya Air SJ-182, dua di antaranya lewat pencocokan data sampel DNA.
Sementara sepuluh lain lewat pencocokan data sidik jari antemortem dan posmortem, dari keseluruhannya dua jenazah sudah diserahkan ke keluarga.
"Tim (DVI) akan bekerja sampai body part tidak ada lagi, kami akan bekerja optimal dan beri kepastian pada keluarga," tutur Karopenmas Polri Brigjen Rusdi Hartono. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Cerita Ayah Minta Kopilot Sriwijaya Air Diego Mamahit Sekolah Penerbangan: Anak Ini Cerdas Otaknya,