Dinamika Hukum
Ini yang Membuat Eiger Tersesat
ADA dua pelajaran yang dapat dipetik dari kasus Eiger yang mengirimkan surat teguran kepada Dian Widyanarko sebagai konsumen produk Eiger.
1. Adanya kata sepakat bagi mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan para pihak untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu hal tertentu; dan
4. Suatu sebab (causa) yang halal.
Nah, pertanyaan mendasarnya, apakah manajemen Eiger merasa mempunyai ikatan dengan Dian?
Inilah yang sulit dipahami dari sebuah perusahaan sekelas Eiger, apalagi surat itu disampaikan oleh bagian legal, yang sejatinya menguasai hukum.
Komunikasi Bisnis
Kemudian, Eiger juga kurang menguasai komunikasi bisnis.
Dalam ilmu bisnis, komunikasi merupakan sendi yang penting dalam membangun bisnis, terutama menjalin relasi antara produsen dan konsumen.
Di mana pun, perusahaan selalu memperhatikan bukan hanya produknya, tapi juga komunikasinya terhadap konsumen.
Produk bagus dan berkualitas, kalau cara komunikasi manajemen atau perusahaannya buruk, bisa membuat kabur konsumen.
Surat dari bagian legal yang ditujukan kepada Dian itu menunjukkan rapuhnya komunikasi bisnis manajemen.
Ini sangat mengherankan.
Apakah Eiger sudah merasa besar, sehingga mempunyai hak mendikte konsumen?
Di sinilah letak miskinnya kemampuan komunikasi.
CEO Eiger kemudian juga memberi video klarifikasi, meminta maaf kepada publik dan kepada Dian.
Dia mengaku salah dalam cara padahal niatnya mau memberi masukan.
Penegasan CEO ini justru menunjukkan kurang terampilnya komunikasi bisnis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ceo-eiger-ronny-lukito.jpg)