Breaking News:

Korban Tewas Hampir 250 Orang, Perlawanan Terhadap Kudeta Militer Myanmar Terus Berlanjut

Dalam demo Myanmar terbaru pada Minggu (21/3), para dokter dan perawat ikut turun ke jalan. Mereka berunjuk rasa dengan damai, menghindari konfrontasi

Editor: Vito
STR / AFP
Pengunjuk rasa bersembunyi di belakang barikade usai melemparkan dan bom molotov dan proyektil menggunakan ketapel ke arah pasukan keamanan dalam aksi protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Rabu (17/3). 

TRIBUNJATENG.COM, MANDALAY - Perlawanan rakyat Myanmar terhadap kudeta militer terus berlanjut, meski jumlah korban jiwa akibat kekerasan aparat keamanan terus bertambah dalam beberapa waktu terakhir, dengan jumlah mendekati 250 orang.

Dalam demo Myanmar terbaru pada Minggu (21/3), para dokter dan perawat ikut turun ke jalan. Mereka berunjuk rasa dengan damai, menghindari konfrontasi dengan aparat keamanan yang menindak keras para demonstran akhir-akhir ini.

Meski militer dan polisi memakai peluru tajam, gas air mata, dan peluru karet untuk membubarkan massa anti-kudeta Myanmar, hal itu tak menghalangi ratusan dokter dan perawat yang membawa poster Aung San Suu Kyi, turun ke jalan di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, yang juga merupakan kota budaya.

Mandalay menjadi lokasi beberapa tindakan mematikan militer Myanmar. Media lokal yang dikutip AFP mengatakan, dokter dan perawat berdemo saat subuh untuk menghindari aparat.

Demo Myanmar oleh dokter dan perawat ini dilakukan sehari setelah tujuh pedemo tewas di tangan polisi. Dua kematian terjadi di Yangon, menurut keterangan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Adapun, korban tewas adalah seorang ibu dan siswa sekolah menengah tewas. Dengan bertambahnya korban tersebut, maka total sebanyak 238 orang telah menjadi korban aparat sejak

Melansir The Irrawaddy, Minggu (21/3), kedua korban tersebut merupakan bagian dari tujuh orang korban tewas pada bentrokan Jumat (19/3) larut malam, dan Sabtu (20/3) waktu setempat.

Dua hari lalu merupakan pekan keenam protes terhadap rezim militer berlangsung. Gelombang demonstrasi di seluruh negeri membuktikan bahwa gerakan anti-rezim militer tidak berkurang.

Siswa sekolah menengah itu diketahui bernama Aung Kaung Htet (15), dari Kotapraja Thaketa, Yangon. Seorang saksi mata mengatakan, tentara dan polisi menyerbu ke lingkungan mereka sekitar pukul 15.00 waktu setempat, ketika pengunjuk rasa, termasuk Aung Kaung Htet, sudah bubar.

"Mereka menembakkan peluru secara langsung selama hampir 10 menit," kata seorang saksi mata, kepada The Irrawaddy.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved