Breaking News:

Korban Tewas Hampir 250 Orang, Perlawanan Terhadap Kudeta Militer Myanmar Terus Berlanjut

Dalam demo Myanmar terbaru pada Minggu (21/3), para dokter dan perawat ikut turun ke jalan. Mereka berunjuk rasa dengan damai, menghindari konfrontasi

Editor: Vito
STR / AFP
Pengunjuk rasa bersembunyi di belakang barikade usai melemparkan dan bom molotov dan proyektil menggunakan ketapel ke arah pasukan keamanan dalam aksi protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Rabu (17/3). 

Aung Kaung Htet dikenal tetangganya sebagai anak yang sangat aktif. Meski masih berusia 15 tahun, ia telah mengambil bagian dalam setiap protes anti-rezim di daerah itu. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Di lokasi yang berbeda, Daw Malar Win (39), juga menjadi korban kebrutalan junta militer Myanmar. Ibu tiga orang anak itu keluar dari rumahnya ketika mendengar tembakan di lingkungannya pada Jumat malam.

Dipukuli

Namun, polisi dan tentara telah melancarkan serangan terhadap orang-orang yang turun ke jalan karena dinilai melawan.

"Dia hanya penonton. Dia tidak bisa lari ketika tentara menyerbu ke jalan dan dipukuli. Dia berlutut dan memohon kepada mereka untuk tidak menangkapnya," kata seorang saksi mata.

Sayangnya, pasukan militer menahan Daw Malar Win. Sabtu paginya, keluarganya diminta untuk mengambil jenazahnya. "Ada memar di wajahnya. Ternyata dia disiksa (saat berada di) tahanan," kata seorang anggota serikat mahasiswa yang membantu keluarga mengambil jenazahnya.

Selain kedua orang itu, aksi pada 2 hari lalu juga menewaskan Ko Thet Paing Soe (28), Ko Kyaw Zwa (27), Ko Myo Myint Aung (27) dan Ko Naing Lin Aung (26). Mereka tewas di tempat yang berbeda.

Para pedemo lalu menyalakan lilin di kota Kale pada Sabtu malam, dan membuat tanda-tanda di jalan agar PBB bertindak untuk menghentikan kudeta Myanmar.

Hampir 250 kematian dikonfirmasi dalam beberapa minggu sejak kudeta Myanmar terjadi, menurut AAPP, meski jumlah sebenarnya bisa lebih tinggi. Selain itu, lebih dari 2.300 pengunjuk rasa ditahan, kata kelompok tersebut.

Kecaman internasional oleh AS, Uni Eropa, PBB, hingga para pemimpin sejumlah negara di Barat dan Asia Tenggara sejauh ini tidak menghentikan pertumpahan darah di Myanmar.

Para menteri luar negeri di Uni Eropa diperkirakan akan menjatuhkan sanksi terhadap 11 petinggi militer saat rapat pada hari ini, Senin (22/3). (Kompas.com/cnn)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved