Breaking News:

Tadarus

TADARUS DR Shofa Chasani: Puasa, Tinjauan pada Penyakit Ginjal Kronis Rutin Cuci Darah

TADARUS DR Shofa Chasani: Puasa dan Kesehatan, Tinjauan pada Penyakit Ginjal Kronis Rutin Cuci Darah

tribunjateng/ist
DR. dr. H. Shofa Chasani, Sp.PD-KGH Pengurus PW Muhammadiyah Jateng dan Ketua PMI Kota Semarang 

Ditulis oleh DR. dr. H. Shofa Chasani, Sp.PD-KGH Pengurus PW Muhammadiyah Jateng dan Ketua PMI Kota Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi seorang muslim sebagai mana perintah Allah dalam alqur’an surat al baqoroh ayat 183 dst. Wahai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu sekalian bertaqwa. Bagi mereka yang bepergian dan atau sakit maka boleh tidak puasa , tetapi menggantinya di hari lain.
Kemudian para ahli berusaha untuk mengetahuai berbagai macam faedah orang yang berpuasa dari berbagai bidang ilmu pengetahuan termasuk bidang Kesehatan jasmani dan rohani. Berbagai macam penemuan baik melalui penelitian maupun pengalaman para ahli didapatkan bahwa puasa, baik puasa wajib maupun sunnah yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ternyata mempunyai manfaat bagi Kesehatan manusia baik jasmani maupun rohani.
Antara lain bermanfaat menyehatkan pembuluh darah dan Jantung, bermanfaat bagi pencernaan, ginjal menjadi lebih sehat, sistem Imun meningkat, mengurangi kegemukan dan mencegah Diabetes . Kesehatan rohani antara lain : menenteramkan hati dan menenangkan pikiran, keimanan meningkat,jiwa sosial meningkat, pencegah sekaligus penyembuh penyakit mental, mencegah penyakit kronis dengan keadaan psikologis yang tenang.
Bahkan pada tahun 2016 seorang sarjana Jepang Yoshinori Ohsumi telah menerima hadiah nobel Kesehatan karena menemukan bahwa ketika seorang puasa dalam jangka waktu 8 jam-16 jam, maka tubuh akan membentuk protein khusus yang disebut autophagisom yang dapat membersihkan sel sel yang mati karena kelaparan (puasa) dan mengeluarkannya sehingga tubuh akan meremajakan sel baru yang lebih baik. Penemuan ini yang sering disebut autophagi sehingga bagi mereka yang berpuasa antara 8 jam-16 jam akan menjadi lebih sehat dan dapat memperbaiki penyakit kronis. Padahal puasa bagi orang Indonesia kurang lebih 12-14 jam sehingga sesuai apa yang telah diteliti oleh Yoshinori Ohsumi.
Sekarang bagaimana bila seseorang mempunyai penyakit ginjal yang sudah menjalani cuci darah?
Penyakit ginjal kronis merupakan penyakit yang disebabkan oleh beberapa penyakit antara lain diabetes mellitus (kencing manis), hipertensi, peradangan ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal dll.
Penyakit ginjal kronis dibagi dalam 5 stadium atau tingkatan , stadium I bila fungsi ginjal 90% selanjutnya stadium 2 60-90%, satdium3 30-59 % dan stadium 4 15-29% , bila seseorang sudah dalam stadium 5 yaitu kurang dari 15% maka biasanya harus menjalani cuci darah terus menerus minimal 10-12 jam dalam waktu 1 minggu atau biasanya di Indonesia dijalankan dengan lama 5 jam dibagi dalam 2 kali seminggu.
Bila penderita ingin lebih baik lagi satu-satunya jalan adalah cangkok ginjal. Bagi penderita yang teratur menjalani cuci darah dan mendapatkan tambahan obat yang diperlukan sesuai standar terapi yang benar, biasanya penderita bisa bertahan hidup seperti layaknya orang sehat.
Di Amerika dan Negara yang maju kasus penderita yang menjalani cuci darah bisa sampai 30-35 tahun bahkan dikatakan meninggalnya penderita mungkin bukan karena sakit ginjalnya. Namun demikian di Indonesia belum dapat seperti apa yang terjadi di Negara maju karena biasanya penderita kehabisan dana untuk terapinya, kecuali yang ditanggung asuransi seluruhnya atau penderita yang berpenghasilan tinggi.
Penderita penyakit ginjal stadium 5 atau terminal biasanya hampir semua organ tubuh sudah terkena komplikasi baik otak, jantung bahkan kulitpun bisa terkena dampaknya. Dengan cuci darah diharapkan semua komplikasi tersebut dapat diatasi sebagian dan lainnya harus mendapatkan suplemetasi obat-obatan yang diperlukan untuk menstabilkan organ organ yang sudah terlanjur terkena.
Penderita yang sudah stabil biasanya sudah tidak mengalami sesak nafas, tekanan darah terkontrol, tidak mual maupun muntah, nafsu makan baik, anemia terkontrol, badan tidak lemas, sehingga tampak seperti orang sehat.
Bolehkah penderita penyakit ginjal yang menjalani cuci darah berpuasa?
Puasa selama 12-14 jam berarti tidak ada masukan makanan maupun minuman, bagi penderita penyakit ginjal yang menjalani cuci darah dan sudah stabil tentu hal ini tidak akan mengganggu bahkan bisa membantu. Karena masukan cairannya menjadi berkurang, sedangkan ginjal penderita sudah tidak berfungsi terutama pengeluaran air kemih. Penderita yang berlebihan dalam konsumsi air sedangkan ginjal tidak berfungsi tentu akan berakibat timbunan cairannya meningkat (over hidrasi), hal ini akan menyebabkan sesak nafas. Cara mengeluarkannya hanya bisa dengan cuci darah. Walaupun demikian penderita yang akan menjalani puasa harus mendapatkan pengawasan yang baik, karena justru pada saat berbuka penderita kadang lupa sehingga konsumsi makanan dan cairannya bisa berlebihan.
Bagi penderita yang belum stabil misalnya masih sering mual dan muntah, masih lemes karena kadar hemoglobinnya masih rendah, ataupun ada gangguan organ yang lain tentunya tidak diperkenankan puasa. Seorang muslim yang taat tentunya akan memahami masalah ini, karena kita diperkenankan tidak puasa dalam keadaan sakit walau kita harus menggantinya.
Bagaimana kalau penyakit tidak stabil terus menerus, tentunya Allah Maha Pengasih dan Penyayang bagi mahlukNYA yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepadaNya. Selamat menjalankan puasa. (*)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved