Mantan Teroris Isi Dakwah Ramadan Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo Semarang
Mantan narapidana terorisme (Napiter) tergabung dalam komunitas Persadani lakukan safari Ramadan pondok pesantren yang ada di Kota Semarang.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: Daniel Ari Purnomo
" Jadi kalau di pondok pesantren yang menafsirkan ulama. Kalau ulamanya salah santrinya juga bisa ikut salah," tandasnya.
Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Imam Taufiq mengatakan fenomena tindakan kekerasan, radikalisme dan terorisme perlu dipahami seluruh elemen masyarakat. Adanya safari Ramadan bagian strategis untuk menyampaikan ke publik bahwa tindakan tersebut merupakan masalah bersama.
"Safari Ramadan merupakan kegiatan paling pas melakukan refleksi diri," tutur dia.
Menurut dia, penyebaran gagasan kekerasan, radikalisme, dan terorisme dilakukan secara simultan dan sistemik. Gagasan tersebut disebarkan di media sosial.
"Oleh sebab itu salah satu cara yang harus dilakukan adalah memberikan informasi, pegangan, dan arahan kepada kaum milenial agar lebih berhati-hati," ujarnya.
Ia menghimbau kepada kaum milenial agar tidak mencari ilmu agama dari media sosial. Ilmu tersebut dapat dicari melalui guru dengan syarat yang jelas.
"Hal ini perlu disampaikan karena mereka masa depan bangsa, mereka yang menguasai media sosial," tuturnya.
Kasat Binmas Polrestabes Semarang, AKBP Samdani, menturkan Safari Ramadan yang dilakukannya merupakan upaya untuk mengurangi faham radikalisme, dan terorisme.
"Kami bersama Kemenag Kota Semarang mengajak para Kiai, pondok pesantren untuk bersama-sama agar para santri bisa memimilih-milih antara keyakinan yang benar dan salah," ujarnya.
Ia menuturkan Safari Ramadan telah dua kali dilaksanakan. Kegiatan tersebut akan diadakan berkelanjutan selama bulan ramadan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mantan-terosi-badawi-rahman.jpg)