Forum Kampus
FORUM KAMPUS DR. Andi Purwono : Solidaritas Kemanusiaan Palestina
KONFLIK Palestina -Israel terus berlangsung dan menjadikannya pertikaian tertua setelah Perang Dunia II, yang terjadi hingga kini.
Oleh DR. Andi Purwono
Wakil Rektor III Universitas Wahid Hasyim Semarang
TRIBUNJATENG.COM -- KONFLIK Palestina -Israel terus berlangsung dan menjadikannya pertikaian tertua setelah Perang Dunia II, yang terjadi hingga kini. Kejadian saling serang terus berulang menciptakan nestapa panjang. Hingga bulan ini, banyak orang turut geram dan prihatin namun juga bertanya di mana solidaritas bagi perjuangan Palestina sebaiknya diletakkan.
Konflik Palestina- Israel memang kusut. Sebagai perebutan wilayah oleh dua bangsa, ia telah dibumbui faktor historis, ideologis, serta campur tangan dan kepentingan pihak luar. Kombinasi faktor- faktor itu telah mengeraskan permusuhan sekaligus memupus banyak upaya perdamaian.
Terhadap derita yang berkepanjangan, banyak solidaritas bermunculan. 1) Empati atas perjuangan Palestina dengan dasar persaudaraan keagamaan (ukhuwah diniyah). Sebagian muslim di Indonesia misalnya mengaitkan solidaritas itu dengan kesamaan agama. Sebagian besar warga Palestina memang muslim meski umat beragama lain juga banyak.
Apalagi didukung fakta keberadaan masjid Al Aqsha di Yerusalem. Ia menjadi masjid ketiga setelah Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Medinah) yang diutamakan. Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad juga menempatkan masjid Al Aqsha istimewa, dan memang pernah menjadi kiblat shalat sebelumnya.
Solidaritas seperti itu tidaklah mengada- ada. Sebagaimana dikemukakan Jonathan Fox and Smuel Sandler (2004:4), agama memang menjadi sumber identitas (source of identity) selain juga cara memandang dunia (source of worldview). Karenanya, filantropi dan aksi kemanusiaan berbasis identitas dan solidaritas keagamaan pun bermunculan.
2) Solidaritas yang didasari persamaan kebangsaan (ukhuwah qoumiyah). Mayoritas orang Palestina berbangsa Arab sementara mayoritas penduduk Israel berbangsa Yahudi. Sentimen kebangsaan ini terbukti dari Perang Palestina- Israel yang melibatkan negara berbangsa mayoritas Arab seperti Mesir, Suriah, Yordania, Libanon pada tahun 1948, 1956, 1967, 1973, dan 1982. Beberapa perang itu dalam kajian politik Timur Tengah juga disebut sebagai Perang Arab- Israel.
Sentimen Arab juga bisa ditemukan buktinya dari pembentukan Liga Arab 22 Maret 1945. Organisasi ini ditujukan untuk mempererat persahabatan Bangsa Arab, memerdekakan negara di kawasan Arab yang masih terjajah, mencegah berdirinya negara Yahudi di daerah Palestina dan membentuk kerjasama dalam bidang politik, militer, dan ekonomi.
Seiring waktu, diawali Mesir tahun 1969 yang juga pemrakarsa Liga Arab tahun 1943, banyak anggota organisasi ini telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Solidaritas Universal
Alih- alih mendamaikan, solidaritas agama dan bangsa tersebut justru sering turut memanaskan konflik. Keduanya menguatkan polarisasi. Apalagi dorongan kepentingan material perebutan wilayah oleh Arab Palestina dan Yahudi Israel tersebut kuat. Oleh karenanya, solidaritas ketiga yang berbasis kemanusiaan perlu didorong bersama.
Solidaritas ini milik semua atas dasar nilai kemanusiaan dan kasih sayang sesama makhluk Tuhan tanpa diskriminasi. Ia bersifat lintasbangsa dan lintasagama sehingga kekejaman dan ketidakadilan akan menjadi musuh bersama. Inilah yang perlu didorong agar dimiliki semua pihak bertikai dan juga penduduk dunia yang peduli pada nasib Palestina dan Israel.
Solidaritas universal semacam ini juga lebih memiliki daya tahan dari upaya politisasi. Ia menjadi milik bersama sehingga tidak mudah diklaim oleh sebagian pihak. Ia juga tidak menjadi sumber legitimasi yang sekedar untuk menarik pupolaritas dan investasi politik kekuasaan jangka pendek semata.
Pemerintah Indonesia misalnya menyampaikan solidaritas ini dalam retorika tentang kemerdekaan, kemanusiaan, dan keadilan. Pembukaan UUD 1945 sering dijadikan dasar karena menyebut frase kemerdekaan sebagai hak semua bangsa dan frase penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Nilai universal seperti ini memiliki gaung dan kekuatan resonansi yang lebih menyentuh aktor- aktor vital global.
Pernyataan solidaritas seperti ini telah dicontohkan sejak presiden Indonesia pertama. Dari Bung Karno hingga Pak Jokowi, official statement Indonesia dalam mendukung perjuangan Palestina diletakkan dalam pijakan solidaritas yang kokoh ini. Pernyataan terakhir Presiden Jokowi bahkan menyebut bahwa Palestina adalah pihak yang hadir dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung yang hingga kini belum mengenyam kemerdekaannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tentara-israel-menembakkan-155mm-self-propelled-howitzer-ke-arah-jalur-gaza.jpg)