Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Forum Kampus

FORUM KAMPUS DR. Andi Purwono : Solidaritas Kemanusiaan Palestina

KONFLIK Palestina -Israel terus berlangsung dan menjadikannya pertikaian tertua setelah Perang Dunia II, yang terjadi hingga kini.

Kompas.com/Istimewa
Tentara Israel menembakkan 155mm self-propelled howitzer ke arah Jalur Gaza dari pos mereka di sepanjang perbatasan dengan Palestina, pada Senin (17/5/2021).(AFP PHOTO/EMMANUEL DUNAND) 

Oleh DR. Andi Purwono
Wakil Rektor III Universitas Wahid Hasyim Semarang

TRIBUNJATENG.COM -- KONFLIK Palestina -Israel terus berlangsung dan menjadikannya pertikaian tertua setelah Perang Dunia II, yang terjadi hingga kini. Kejadian saling serang terus berulang menciptakan nestapa panjang. Hingga bulan ini, banyak orang turut geram dan prihatin namun juga bertanya di mana solidaritas bagi perjuangan Palestina sebaiknya diletakkan.

Konflik Palestina- Israel memang kusut. Sebagai perebutan wilayah oleh dua bangsa, ia telah dibumbui faktor historis, ideologis, serta campur tangan dan kepentingan pihak luar. Kombinasi faktor- faktor itu telah mengeraskan permusuhan sekaligus memupus banyak upaya perdamaian.

Terhadap derita yang berkepanjangan, banyak solidaritas bermunculan. 1) Empati atas perjuangan Palestina dengan dasar persaudaraan keagamaan (ukhuwah diniyah). Sebagian muslim di Indonesia misalnya mengaitkan solidaritas itu dengan kesamaan agama. Sebagian besar warga Palestina memang muslim meski umat beragama lain juga banyak.

Apalagi didukung fakta keberadaan masjid Al Aqsha di Yerusalem. Ia menjadi masjid ketiga setelah Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Medinah) yang diutamakan. Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad juga menempatkan masjid Al Aqsha istimewa, dan memang pernah menjadi kiblat shalat sebelumnya.

Solidaritas seperti itu tidaklah mengada- ada. Sebagaimana dikemukakan Jonathan Fox and Smuel Sandler (2004:4), agama memang menjadi sumber identitas (source of identity) selain juga cara memandang dunia (source of worldview). Karenanya, filantropi dan aksi kemanusiaan berbasis identitas dan solidaritas keagamaan pun bermunculan.

2) Solidaritas yang didasari persamaan kebangsaan (ukhuwah qoumiyah). Mayoritas orang Palestina berbangsa Arab sementara mayoritas penduduk Israel berbangsa Yahudi. Sentimen kebangsaan ini terbukti dari Perang Palestina- Israel yang melibatkan negara berbangsa mayoritas Arab seperti Mesir, Suriah, Yordania, Libanon pada tahun 1948, 1956, 1967, 1973, dan 1982. Beberapa perang itu dalam kajian politik Timur Tengah juga disebut sebagai Perang Arab- Israel.

Sentimen Arab juga bisa ditemukan buktinya dari pembentukan Liga Arab 22 Maret 1945. Organisasi ini ditujukan untuk mempererat persahabatan Bangsa Arab, memerdekakan negara di kawasan Arab yang masih terjajah, mencegah berdirinya negara Yahudi di daerah Palestina dan membentuk kerjasama dalam bidang politik, militer, dan ekonomi.

Seiring waktu, diawali Mesir tahun 1969 yang juga pemrakarsa Liga Arab tahun 1943, banyak anggota organisasi ini telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Solidaritas Universal

Alih- alih mendamaikan, solidaritas agama dan bangsa tersebut justru sering turut memanaskan konflik. Keduanya menguatkan polarisasi. Apalagi dorongan kepentingan material perebutan wilayah oleh Arab Palestina dan Yahudi Israel tersebut kuat. Oleh karenanya, solidaritas ketiga yang berbasis kemanusiaan perlu didorong bersama.

Solidaritas ini milik semua atas dasar nilai kemanusiaan dan kasih sayang sesama makhluk Tuhan tanpa diskriminasi. Ia bersifat lintasbangsa dan lintasagama sehingga kekejaman dan ketidakadilan akan menjadi musuh bersama. Inilah yang perlu didorong agar dimiliki semua pihak bertikai dan juga penduduk dunia yang peduli pada nasib Palestina dan Israel.

Solidaritas universal semacam ini juga lebih memiliki daya tahan dari upaya politisasi. Ia menjadi milik bersama sehingga tidak mudah diklaim oleh sebagian pihak. Ia juga tidak menjadi sumber legitimasi yang sekedar untuk menarik pupolaritas dan investasi politik kekuasaan jangka pendek semata.

Pemerintah Indonesia misalnya menyampaikan solidaritas ini dalam retorika tentang kemerdekaan, kemanusiaan, dan keadilan. Pembukaan UUD 1945 sering dijadikan dasar karena menyebut frase kemerdekaan sebagai hak semua bangsa dan frase penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Nilai universal seperti ini memiliki gaung dan kekuatan resonansi yang lebih menyentuh aktor- aktor vital global.

Pernyataan solidaritas seperti ini telah dicontohkan sejak presiden Indonesia pertama. Dari Bung Karno hingga Pak Jokowi, official statement Indonesia dalam mendukung perjuangan Palestina diletakkan dalam pijakan solidaritas yang kokoh ini. Pernyataan terakhir Presiden Jokowi bahkan menyebut bahwa Palestina adalah pihak yang hadir dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung yang hingga kini belum mengenyam kemerdekaannya.

Pemimpin Katolik Roma, Sri Paus, juga sering menyampaikan pernyataan tentang Palestina yang didasarkan pada solidaritas kemanusiaan universal tersebut. Demikian juga tokoh agama dan organisasi dunia lainnya. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) misalnya juga menekankan solidaritas kemanusiaan ini dalam bahasa ukhuwah bashariyah (persaudaraan kemanusiaan) atau Mustasyar PBNU Yahya Cholil Staquf dalam terminologi rahmah.

Dalam tataran praktis, upaya mendorong solidaritas kemanusiaan ini juga sejalan dengan fakta bahwa kedua bangsa bertikai telah lama hidup di wilayah yang berdekatan tersebut. Oleh karenanya masyarakat internasional juga menekankan solusi dua negara (two state solution) sebagai yang paling realistis untuk mengakhiri konflik. Bangsa Palestina harus bisa mengakui hak hidup bangsa Yahudi dan demikian pula sebaliknya.

Persoalannya menjadi sulit karena di masing- masing pihak ada kelompok garis keras yang masih bersikap nonkooperatif dan berusaha saling menegasikan. Faktor idea seperti itu menjadi semakin rumit tatkala ditemukan dengan argumen keamanan nasional yang juga berupaya mengeliminir sekecil apapun potensi ancaman. Inilah yang berulang- ulang menjadi faktor pemicu insiden sehingga konflik awet bertahan.

Oleh karena itu, bagian penting dari solusi perdamaian kedua bangsa sejatinya terletak pada penerimaan atas ide solusi dua negara ini. Penulis yakin, di kedua pihak ada kelompok rasional yang bisa membaca situasi ini dengan logis dan berwawasan masa depan. Sejauh mana kelompok ini menyebarkan ide kemanusiaan dan memegang kendali kekuasaan akan sangat menentukan masa depan perdamaian.

Kebesaran hati bangsa Arab Palestina dan Yahudi Israel untuk bisa hidup berdampingan secara damai menentukan masa depan keduanya. Tanpa itu, bara permusuhan akan terus menyala dan masa depan perdamaian tetap akan maya semata. Padahal problem penduduk dunia tidak hanya masalah Palestina. (*)

Baca juga: OPINI DR. Apt. Sri Haryanti, M.Si : Memaknai Lebaran Tanpa Mudik

Baca juga: OPINI: Mudik dan Mengambinghitamkan Tradisi

Baca juga: OPINI DR. Nugroho Trisnu Brata : Mudik dan Mengambinghitamkan Tradisi

Baca juga: OPINI: (Tidak) Ada Lagi Kisah Kasih di Sekolah

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved