Penjualan Toko Perlengkapan Haji Anjlok Dampak Pembatalan Ibadah Haji
Omzet penjualan perlengkapan dan oleh-oleh haji turun drastis akibat pembatalan haji 2021.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Biasanya, beberapa minggu menjelang musim haji, Toko Al Mukarramah Aziz yang menjual persediaan dan perlengkapan bagi orang-orang yang mempersiapkan ibadah haji akan menjadi pusat aktivitas.
Namun tahun ini, toko itu tampak tak bernyawa dan sepi. Pemilik toko, Muhammad Aziz, telah melakukan semua yang dia bisa untuk menarik lebih banyak pelanggan.
Sebelum pandemi, toko-toko pasokan haji milik Aziz dapat menghasilkan hingga Rp 25 juta/hari selama musim haji. Pakaian haji, Alquran berukuran saku, dan sajadah adalah barang-barang populer.
Jemaah yang kembali dari haji juga akan mampir ke toko-toko milik Aziz untuk mencari makanan ringan impor, buah-buahan kering, dan air Zamzam suci, terutama ketika mereka lupa membeli beberapa untuk kerabat dan tetangga mereka saat berada di Arab Saudi.
"Penjualan turun 80 persen," kata Aziz, kepada Channel News Asia (CNA), di dalam tokonya di Jakarta Timur, seperti dilansir Tribunnews, Selasa (8/6).
Senada dialami, Dwi Prasetyono, pemilik Toko Zaidan yang menyediakan perlengkapan haji dan umroh di Kota Blitar. Omzet penjualan perlengkapan dan oleh-oleh haji di tokonya turun sekitar 90 persen.
Selain omzet turun, sampai sekarang stok perlengkapan haji masih menumpuk di Toko Zaidan. Stok perlengkapan haji yang disiapkan Dwi sejak 2019 itu belum terjual dampak pembatalan penyelenggaraan haji selama 2 tahun.
"Padahal, sebelum pandemi saya menyiapkan stok kebutuhan haji dua kali lipat dari biasanya, karena saya melihat antusias orang pergi haji tinggi. Sampai sekarang stok tidak terjual dampak pembatalan penyelenggaran haji," tuturnya, Selasa (8/6).
Stok perlengkapan haji disimpan di gudang lantai dua toko milik Dwi di Jalan Bali, Kota Blitar. Sejumlah barang perlengkapan haji seperti kaus dalam, topi, sabuk, sandal, sajadah, dan mukena, terlihat menumpuk di rak gudang lantai dua toko Dwi.
Dwi mengatakan selain perlengkapan haji, tokonya juga menyediakan oleh-oleh haji. Biasanya, orang yang baru pulang haji memberikan oleh-oleh untuk tamu yang berkunjung ke rumah. Barang yang digunakan untuk oleh-oleh tidak semua dari Mekkah. Sebagian beli di toko perlengkapan haji lokal.
"Para haji memberikan oleh-oleh untuk tamu, biasanya sebagian barangnya dari lokal. Contohnya sajadah, sarung, mukena, dan jilbab, itu paling banyak digunakan untuk oleh-oleh orang pulang haji," ujarnya.
Dwi berharap pandemi covid-19 cepat berakhir dan penyelenggaraan ibadah haji bisa dilaksanakan kembali. "Biar usaha penjualan perlengkapan haji dan umroh ikut jalan lagi," katanya.
Penurunan omzet akibat ditiadakannya keberangkatan haji tahun ini juga dirasakan toko oleh-oleh di sekitar Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Mereka pun mengandalkan peluang dari berjualan masker medis.
Toko oleh-oleh Rafaeza, misalnya. Sejak beberapa bulan terakhir, toko yang terletak tepat di seberang pintu masuk asrama itu memutuskan berjualan masker.
"Sejak pandemi saja ikut jualan masker, biarpun enggak laku banget, tapi lumayan," ungkap Dedeh (20), saat ditemui di tokonya, Senin (7/6).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/toko-perlengkapan-haji.jpg)