Berita Kudus
Kepala Dinas Kesehatan Kudus Ingatkan Manfaat Vaksinasi: Mencegah Efek Terburuk dari Covid-19
Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Badai Ismoyo, menyebutkan, bahwa vaksin memiliki dampak besar terhadap kemungkinan terburuk.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: moh anhar
Sejauh ini pihaknya belum menerima laporan perihal meninggalnya warga yang sudah dua kali vaksin dan meninggal terkonfirmasi positif Covid-19. Dia menegaskan, ketika melihat angka tersebut artinya vaksin memang sangat bermanfaat.
Selebihnya, dia mengatakan, setelah divaksin memang tidak lantas terhindar dari terpapar Covid-19. Tetapi hal itu bagian dari upaya di tengah pandemi.
"Ada pertanyaan, 'itu wong mari dewe kok' ya sembuh sendiri bisa memang begitu. Dan tanpa divaksin pun juga sembuh. Tetapi kami harus menunjukkan sebuah data tentang orang yang terpapar karena sudah divaksin itu keadaannya berbeda. Vaksin memang bukan tuhan yang tidak bisa ditentukan orang yang sudah divaksin itu selamet. Tetapi merupakan upaya manusia," tutur dia.
Pihaknya belum bisa mengatakan perihal tingginya angka kematian terkonfirmasi Covid-19 sebulan terakhir karena varian delta. Hanya saja, pihaknya menekankan bahwa varian baru ini memiliki daya penularan yang lebih masif dan gejala yang sedikit berbeda.
"Muncul tingkat kematian yang demikian tinggi. Secara persis kami belum bisa mengatakan itu (karena varian baru). Tetapi kalau menghubungkan secara logika, korelasinya bisa-bisa seperti itu," kata dia.
Sementara, dari data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kudus sepanjang 2020 angka kematian warga Kudus yakni sebanyak 5.911 orang. Sedangkan sejak Januari sampai 21 Juni 2021 terdapat 4.318 orang yang meninggal.
Baca juga: Apa Itu Cucus? Viral Istilah Gaul yang Jadi Challenge TikTok
Baca juga: Salman Khan Berprinsip Tak Mau Ciuman, Ini yang Dilakukan Saat Ada Adegan Cium Lawan Main
Baca juga: Mahasiswa KKN USM Semarang Dorong Ide Kreatif Pemanfaatan Potensi Desa
Dari data itu bisa dilihat bahwa angka kematian selama kurang dari enam bulan di tahun 2021 lebih dari 70 persen jika dibanding angka kematian pada 2020.
Sekretaris Disdukcapil Kudus, Putut Winarno, mengatakan, pihaknya tidak bisa serta merta memilah mana warga yang meninggal terkonfirmasi positif Covid-19 atau mana yang tidak terpapar corona. Data itu masuk berdasarkan laporan dari warga.
"Ada yang meninggal biasa, karena kecelakaan, karena sakit. Itu bisa juga meninggal tahun kemarin dilaporkan tahun ini," kata Putut.
Kata Putut, terkait kematian warga kian sadar untuk melaporkan demi memperoleh akta kematian. Sebab dokumen tersebut bisa digunakan untuk menghapus data kependudukan di dalam kartu keluarga, pembagian warisan, urusan perbankan, dan sebagainya.
"Jadi angka kematian di kami itu karena laporan dari warga. Bukan tolok ukur angka pandemi," kata dia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/petugas-merapir-antigen-pengunjung-mal.jpg)