Breaking News:

Berita Kudus

Kepala Dinas Kesehatan Kudus Ingatkan Manfaat Vaksinasi: Mencegah Efek Terburuk dari Covid-19

Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Badai Ismoyo, menyebutkan, bahwa vaksin memiliki dampak besar terhadap kemungkinan terburuk.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: moh anhar
Tribun Jateng/Rifqi Gozali
Seorang petugas sedang merapid antigen seorang pengunjung pusat perbelanjaan di Kecamatan Jati, Kudus, Selasa (15/6/2021). 

Penulis: Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Badai Ismoyo, menyebutkan, bahwa vaksin memiliki dampak besar terhadap kemungkinan terburuk yang bisa ditimbulkan oleh Covid-19.

Hal itu terbukti dari sekitar 700-an tenaga kesehatan di Kudus yang terpapar Covid-19, kini tersisa 10 persen yang masih isolasi.

“Sehingga sudah 90 persen (nakes isolasi) selesai. 10 persen masih menunggu masa berakhirnya isolasi dengan posisi OTG (Orang Tanpa Gejala). Jadi boleh dikatakan hampir 99 persen itu seperti itu, maksudnya yang sudah divaksin nakes terhindar dari kejadian yang buruk,” ujar Badai, Senin (21/6/2021).

Badai memastikan para nakes telah divaksin. Dia tidak menampik jika terdapat nakes yang sempat bergejala. Tercatat ada 19 nakes yang bergejala ringan sampai sedang.

Baca juga: Dorong Warga Vaksinasi Covid-19, Kepala Dinkes Kudus: Masih Ada yang Bilang, Itu Wong Mari Dewe Kok!

Baca juga: Antusiasme Warga Tinggi, Tak Semua Warga Banyumas Bisa Terlayani Vaksinasi Keliling di Pasar Wage

Baca juga: Turut Bawa Kesuksesan AC Milan, Fikayo Tomori Dikontrak Permanen, Masuk Jajaran Bek Termahal

“Terbanyak hanya 19 orang saja yang sempat mengalami gejala ringan sedang. Itu dirawat selesai sudah sembuh,” ujar dia.

Memang satu di antara upaya menekan tingginya angka penularan Covid-19 di Kudus selain menerapkan protokol kesehatan, vaksinasi harus dipercepat.

“Karena setidaknya vaksin itu kan setidaknya bisa mengurangi kejadian terburuk. Artinya manfaatnya luar biasa,” kata dia.

Sampai saat ini, katanya, vaksinasi masih terus berlangsung. Vaksin yang digunakan yakni Sinovac.

“Sinovac jelas disampaikan oleh para peneliti sendiri mempunyai efektivitas sampai 65 persen. Jadi kalau seandainya orang divaksin 100 orang itu yang 65 itu pasti efektif yang 35 bisa saja kurang efektif karena persoalannya orang yang divaksin mempunyai daya imun sendiri-sendiri,” kata dia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved