Virus Corona Bertahan di Partikel Udara 3 Jam, Kabut dan AC Contoh Aerosol
Virus corona melayang di aerosol seperti kabut dan udara AC. Partikel tersebut bisa bertahan melayang di udara berjam-jam dan bisa terhirup
Penulis: Puspita Dewi | Editor: abduh imanulhaq
Virus Corona Bertahan di Partikel Udara 3 Jam, Kabut dan AC Contoh Aerosol
TRIBUNJATENG.COM - Pada Juli 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengumumkan virus Corona menyebar melalui udara ( airborne ).
Virus Corona dapat bertahan 3 jam di udara pada ruang tertutup.
Aerosol sendiri adalah partikel cair atau padat yang mengumpul di udara. Aerosol terbentuk ketika tetesan kecil (droplet) menguap lebih cepat daripada jatuh ke tanah.
Contoh aerosol adalah kabut dan udara AC. Partikel tersebut bisa bertahan melayang di udara berjam-jam dan bisa terhirup
Baca juga: WHO Peringatkan Akan Muncul Varian Baru Covid-19 yang Lebih Berbahaya & Sulit Dikendalikan
Baca juga: Setelah Dikritik WHO, Pemerintah Indonesia Cabut Kebijakan Vaksin Berbayar
Baca juga: Rencanakan Penyelidikan Asal Usul Covid-19 Fase 2, WHO Minta China Lebih Transparan
Baca juga: China Bantah Tuduhan WHO yang Sebut Halangi Penyelidikan Asal-Usul Covid-19 di Wuhan
Salah satu bukti dipublikasi di jurnal preprint medRxiv, menunjukkan COVID-19 bisa bertahan di udara selama tiga jam dalam bentuk aerosol. Virus dalam bentuk aerosol tersebut bisa terhirup dan membuat seseorang tertular.
Studi menunjukkan, virus Corona dapat dilepaskan seseorang yang terinfeksi ketika mereka bernapas, bersin, berbicara dan batuk.
Tetesan tersebut mengandung virus yang dapat melayang di udara dalam waktu sampai tiga jam.
Orang yang berjarak dekat dengan seseorang yang terinfeksi ini berisiko terpapar virus sehingga rantai penularan pun dimulai.
WHO Peringatkan Akan Muncul Varian Baru Covid-19 yang Lebih Berbahaya & Sulit Dikendalikan
Organisasi kesehatan dunia, WHO, memperingatkan, varian baru Covid-19 yang lebih berbahaya diperkirakan akan menyebar ke seluruh dunia, sehingga lebih sulit untuk menghentikan pandemi.
"Pandemi belum selesai," ungkap Komite Darurat WHO dalam pernyataan pada Kamis (15/7/2021) memperingatkan setelah pertemuan sehari sebelumnya, dikutip dari AFP.
"Kemungkinan kuat munculnya dan penyebaran global varian baru, mungkin lebih berbahaya dari yang dikhawatirkan, bahkan bisa lebih menantang untuk dikendalikan," ungkapnya.
"Pandemi tetap menjadi tantangan secara global dengan negara-negara menavigasi tuntutan kesehatan, ekonomi, dan sosial yang berbeda," lanjut Komite Darurat WHO.
"Negara-negara dengan akses lanjutan ke vaksin dan sistem kesehatan yang memiliki sumber daya yang baik berada di bawah tekanan untuk membuka kembali kehidupan masyarakat mereka sepenuhnya."
Di sisi lain, "Negara-negara dengan akses terbatas ke vaksin mengalami gelombang infeksi baru, melihat tergerusnya kepercayaan publik (dan) meningkatnya kesulitan ekonomi, serta, dalam beberapa kasus, meningkatkan kerusuhan sosial."
Ketua Komite Darurat WHO Didier Houssin berkata kepada wartawan, dia mengakui tren baru-baru ini mengkhawatirkan.
Selama 1,5 tahun setelah WHO pertama kali menyatakan Darurat Kesehatan Masyarakat Perhatian Internasional (PHEIC) sebagai tingkat kewaspadaan tertinggi, "Kami masih mengejar virus ini dan virus masih mengejar kita".
Untuk saat ini, empat varian Covid-19 mendominasi pandemi global yaitu Alpha, Beta, Gamma, dan terutama varian Delta yang menyebar cepat.
Akan tetapi komite memperingatkan, yang lebih buruk bisa terjadi di depan.
Para ahli mengatakan, sebagai akibatnya banyak negara menerapkan kebijakan yang semakin berbeda dalam menangani kebutuhan nasional, sehingga menghambat pendekatan yang selaras untuk respons global.
"Penggunaan masker, physical distancing, menjaga kebersihan tangan, dan peningkatan ventilasi ruang dalam ruangan tetap menjadi kunci untuk mengurangi penularan".
Para pakar juga menekankan kebutuhan memvaksinasi setidaknya 10 persen dari populasi setiap negara pada September, dan pembagian vaksin antara negara kaya dan negara miskin.
"Banyak negara sekarang telah memvaksinasi populasi prioritas mereka, direkomendasikan bahwa dosis harus dibagi dengan negara-negara yang memiliki akses terbatas sebelum memperluas program vaksinasi nasional ke kelompok berisiko rendah."
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kabut-asap-di-ogan-ilir-sumatera-selatan_20170721_233036.jpg)