Berita Semarang
Wawancara Khusus dengan Ferdinandus Hindiarto, Rektor Terpilih Unika Soegijapranata
Yuval Noah Harari mempertanyakan masih adakah makna hidup dalam pesatnya teknologi digital.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
Ceritakan pengalaman anda sebagai akademisi dan juga pegiat olahraga?
Perjalanannya cukup lika-liku. Kuliah di Fakultas Psikologi UGM S1, S2, hingga S3. Loyalis garis keras UGM (tertawa). Bergabung dengan Unika Soegijapranata pada 1996 tepat 25 tahun yang lalu.
Dari awal kemudian kesana kemari, semua tugas dijalani dari Sekretaris Redaksi Majalah Ilmiah hingga mengurus KKN dan Wakil Rektor 3 sampai 10 tahun.
Pernah tersesat di PSIS Semarang jadi GM (general manager), lalu Direktur Bisnis PSIS Semarang.
Kemarin teman-teman memberi amanah menjadi rektor. Mungkin Rektor Unika harus unik, lalu ketemu saya (tertawa).
Ketika ditetapkan menjadi rektor terpilih, perasaan anda bagaimana?
Perasaan santai karena sejak awal saya berangkat santai. Diminta mendaftar menyanggupi menjadi calon rektor bagi saya juga bukan hal yang istimewa, tapi harus disikapi dengan serius. Tidak ada ketegangan gitu sih, santai saja.
Di kampus saya dikenal sosok yang suka ngekek (tertawa terbahak-bahak red.) ya sampai sekarang terus ngekek. Nggak bisa spaneng. Kalau mikir yang serius saya nggak kuat.
Termasuk ketika diminta foto profil pemilihan rektor, ya saya kirimkan foto pas main bola sama PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Ditolak pula. (katanya) pak yang serius?. Lah serius saya begitu. Bicara sepak bola, tagline saya kan dibutuhkan playmaker agar tim bermain dengan benar.
Ketika diumumkan (menjadi rektor), oke saya terima tanggung jawab ini. Biasanya kalau saya melakukan sesuatu akan total. Itu ciri khas saya. Semuanya yang saya punya, yang saya bisa, akan semua saya berikan untuk tugas itu.
Supaya bisa total dan konsisten kan butuh refreshing, nah tekanan harus dimainkan dengan guyon-guyon (becanda).
Bagaimana respon keluarga ketika mengetahui anda merupakan rektor terpilih?
Saat mendaftar saya tidak bilang ke anak istri. Baru saat poster pemilihan rektor keluar, baru lah anak istri tahu dari medsos (media sosial). Mereka kaget, (katanya) bapak kurang ajar nggak ngasih tahu. Ya yang namanya hidup kan harus ada surprise.
Kebetulan anak saya sudah gede. Yang paling gede juga kuliah psikologi di UGM. Yang kecil SMA kelas 12 juga akan masuk psikologi UGM.
Saya mengisi formulir kesanggupan juga diam diam. Teman-teman di kampus tidak ada yang tahu. Beberapa orang kaget saat nama diumumkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rektor-unika-saat-wawancara-dengan-tribun.jpg)