Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Wawancara Khusus dengan Ferdinandus Hindiarto, Rektor Terpilih Unika Soegijapranata

Yuval Noah Harari mempertanyakan masih adakah makna hidup dalam pesatnya teknologi digital.

Tayang:
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Tangkapan layar Rektor terpilih Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto saat wawancara dengan Tribun Jateng. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Teknologi berkembang pesat di era Revolusi Industri 4.0 seperti sekarang ini. Digitalisasi dan otomatisasi menjadi denyut nyawa aktivitas yang menggerakan roda kehidupan sehari-hari.

Seolah-olah disrupsi teknologi dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19. Dimana, segala aktivitas kegiatan manusia dituntut menggunakan teknologi untuk mencegah penularan covid.

Misalnya, aktivitas pembelajaran jarak jauh untuk pelajar, aktivitas bekerja di rumah (work from home) untuk masyarakat pekerja, dan sebagainya.

Pada fase keempat ini, ilmu robotika, kecerdasan buatan (artificial inteligence), otomatisasi mesinmencapai puncak pemanfaatan.

Segala pekerjaan apa saja menjadi mudah dengan menggunakan Internet of Things (IoT).

Namun demikian, seorang guru besar dan juga penulis buku best seller, Yuval Noah Harari mengatakan, dengan berkembang pesatnya teknologi digital yang merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan, ia bertanya: masih adakah makna hidup?

Harari melihat perkembangan teknologi yang begitu masif justru berbahaya. Di sisi lain, dalam kacamata Martin Heidegger, seorang filsuf dari Jerman di dalam karyanya Being and Time (1927) mengungkapkan teknologi mengancam otentisitas manusia.

Cerita soal teknologi ini mendukung penuturan Rektor terpilih Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto dalam wawancara khusus dengan Tribun Jateng baru-baru ini. Ia akan resmi menjabat Rektor Unika mulai September 2021 mendatang.

Pria yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 di Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengusung tema 'Inflammare Humanitatem' atau menyalakan kemanusiaan dalam pengelolaan kampus Katolik yang ada di Kota Semarang ini.

Dalam penjabaran tema tersebut, pria yang hobi bermain bulutangkis ini mengatakan, hubungan antara teknologi dengan relasi antar-sesama manusia. Lalu menerangkan bagaimana manusia 'menjadi manusia' di era kebudayaan digital seperti sekarang ini.

"Sekarang hidup, banyak orang mengatakan tidak ada keselamatan di luar teknologi. Seolah olah kalau tidak ada teknologi akan mati. Misalnya, handphone (ponsel) saat ketinggalan itu rasanya, wow, panik. Apa iya sih harus seperti itu? Mari kembali ke kemanusiaan kita. Bahwa relasi antarmanusia itu lebih kuat kalau komunikasi langsung," ucapnya.

Pernyataannya ini tidak berarti menghakimi dirinya anti-teknologi. Ia menegaskan tidak mengesampingkan teknologi. Teknologi dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan kampus, hanya sebagai alat atau instrumen, bukan segalanya.

Ini penuturan lengkap dari pria yang pernah menduduki jabatan penting di tim sepakbola PSIS Semarang ini.

Setelah ditetapkan sebagai rektor terpilih pada 5 Agustus, dengan masa jabatan 2021-2025, apa kesibukan saat ini?

Kesibukannya pekan ini menyusun kabinet. Tapi tidak mengganggu aktivitas rutin.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved