Breaking News:

Berita Semarang

Wawancara Khusus dengan Ferdinandus Hindiarto, Rektor Terpilih Unika Soegijapranata

Yuval Noah Harari mempertanyakan masih adakah makna hidup dalam pesatnya teknologi digital.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Tangkapan layar Rektor terpilih Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto saat wawancara dengan Tribun Jateng. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Teknologi berkembang pesat di era Revolusi Industri 4.0 seperti sekarang ini. Digitalisasi dan otomatisasi menjadi denyut nyawa aktivitas yang menggerakan roda kehidupan sehari-hari.

Seolah-olah disrupsi teknologi dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19. Dimana, segala aktivitas kegiatan manusia dituntut menggunakan teknologi untuk mencegah penularan covid.

Misalnya, aktivitas pembelajaran jarak jauh untuk pelajar, aktivitas bekerja di rumah (work from home) untuk masyarakat pekerja, dan sebagainya.

Pada fase keempat ini, ilmu robotika, kecerdasan buatan (artificial inteligence), otomatisasi mesinmencapai puncak pemanfaatan.

Segala pekerjaan apa saja menjadi mudah dengan menggunakan Internet of Things (IoT).

Namun demikian, seorang guru besar dan juga penulis buku best seller, Yuval Noah Harari mengatakan, dengan berkembang pesatnya teknologi digital yang merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan, ia bertanya: masih adakah makna hidup?

Harari melihat perkembangan teknologi yang begitu masif justru berbahaya. Di sisi lain, dalam kacamata Martin Heidegger, seorang filsuf dari Jerman di dalam karyanya Being and Time (1927) mengungkapkan teknologi mengancam otentisitas manusia.

Cerita soal teknologi ini mendukung penuturan Rektor terpilih Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto dalam wawancara khusus dengan Tribun Jateng baru-baru ini. Ia akan resmi menjabat Rektor Unika mulai September 2021 mendatang.

Pria yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 di Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengusung tema 'Inflammare Humanitatem' atau menyalakan kemanusiaan dalam pengelolaan kampus Katolik yang ada di Kota Semarang ini.

Dalam penjabaran tema tersebut, pria yang hobi bermain bulutangkis ini mengatakan, hubungan antara teknologi dengan relasi antar-sesama manusia. Lalu menerangkan bagaimana manusia 'menjadi manusia' di era kebudayaan digital seperti sekarang ini.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved