Berita Semarang
Wawancara Khusus dengan Ferdinandus Hindiarto, Rektor Terpilih Unika Soegijapranata
Yuval Noah Harari mempertanyakan masih adakah makna hidup dalam pesatnya teknologi digital.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
Kami menguat, berakar pada nilai-nilai, bertekun pada proses, berbuat pada kualitas. Ada gambar pohon dengan akar kuat itu nilai-nilai, bertekun pada proses itu di batang, lalu daun dan buah merupakan kualitas. Saya pikir harus optimis dan percaya berbuah pada kualitas.
Seperti apa rencana pengembangan Kampus Unika baru yang ada di BSB?
Satu unit sudah jadi Gedung Fransiscus, Juni kemarin diresmikan. Ada dua unit lagi yang sedang dibangun, Fakultas Kedokteran dan rumah sakitnya. Gedung sudah dipakai pada semester ini oleh Teknologi Pertanian, pindah ke sana.
Akan jadi lokasi klaster program inovatif. Program inovasi ini menjawab kebutuhan hari ini, contoh ada program digital accounting, ada big data, dan artificial inteligence. Lalu ada International Undergraduate Program (IUP) di kampus BSB.
Gedung sudah siap, sekitar 80 persen tinggal beberapa ruang interior dalam pengerjaan. Ini satu gedung cukup besar, dibangun dengan konteks hari ini, ditata tidak konvensional, ada banyak lounge dan breakout room. Jadi bisa nongkrong sambil googling dan ngopi serta menikmati emandangan cukup indah di BSB.
Ruang dosen disusun seperti co-working space, tidak kotak-kotak. Perpustakaan juga model baru tidak dengan rak-rak buku, tapi e-Library lengkap dengan koleksi yang banyak. Konsepnya banyak tempat untuk diskusi, bisa serius, bisa ngobrol, bisa cerita habis diputus pacarnya boleh, di-php pacarnya juga boleh.
Bagaimana menurut anda untuk meningkatkan kualitas dosen?
Nomor satu harus berakar pada nilai. Mendasarkan semua hal yang dikerjakan pada perutusan. Saya bekerja di Unika tidak sekedar bekerja, kami diutus. Karena universitas katolik kami diutus oleh tuhan.
Untuk apa? satu menggembleng generasi muda dengan ilmu pengetahuan dan moral karakter dewasa, supaya mereka berani mengambil peran sebagai pemimpin. Jadi dosen juga tidak sekedar mengajar, tapi berbicara moral dan karakter agar mahasiswanya siap menjadi pemimpin.
Kedua, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan demi lebih baiknya kehidupan manusia. Tidak sekedar mengajar setiap hari rutin, penelitian yang menjalani rutinitas, tidak, kami harus mengembangkan dan menyebarluaskan. Tribun akan kami panggil untuk mempublikasikan hasil riset para dosen yang aplikatif yang bisa langsung dipakai masyarakat demi semakin baiknya kehidupan.
Kami dorong skripsi dan tugas akhir yang bermanfaat bagi martabat kehidupan manusia agar lebih baik. Dosen didorong ke sana. Bukan rutinitas, masuk ke kelas membawa perutusan, saya sebut perutusan yang luhur dan mulia.
Bagaimana dengan kerja sama dengan universitas lain?
Kerja sama, kami bergabung banyak asosiasi dan universitas di dalam dan luar negeri. Di Indonesia ada namanya Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik se-Indonesia, itu tentu kami bergabung. Tahun depan, kami tuan rumah kongres.
Lalu banyak juga dosen yang bergabung dengan program fellowship. Tentu banyak program dengan kampus Jepang dan Amerika. Bekerja sama dengan kampus Taiwan, Filipina, dan Korea dalam bentuk konkret.
Lalu visiting profesor, dosen kami menajar di sana, dosen sini mengajar di sana. Riset bareng dengan beberapa kampus di Belanda. Hampir semua fakultas kami dorong, bukan untuk iklan tapi betul betul menambah wawasan, keluar dari wawasan terbatas, berkolaborasi.
Mahasiswa membuat tugas akhir bareng, mereka datang ke sini belajar tentang herbal dan jamu. Ada petukaran pelajar, KKN bersama, KKN di negara lain.
Dosen melakukan penelitian artinya mempunyai utang kepada masyarakat. Tema diambil dari masyarakat, subjek dari masyarakat, ditulis di jurnal internasional, masyarakat tidak pernah dikasih. Makanya nanti kami tentu bekerja sama dengan media rutin reguler untuk publikasi riset yang bisa di-share. Ini utang yang harus dibayar.
Pesan apa yang ingin anda sampaikan untuk Tribunners?
Jangan ragu bergabung dengan Unika. Talenta propatria et humanitati artinya setiap mahasiswa punya talenta potensi dan bakat. Di tempat kami bakat dikembangkan sepenuhnya. Untuk apa? tujuan akhirnya untuk negara dan kemanusiaan.
Universitas mengembangkan mahasiswa berbasis pada nilai nilai. Mohon maaf kalau cari ijazah jangan cari di Unika, agak susah, bukan mempersulit, tapi mendidik supaya menghasilkan kualitas.
Sesuatu yang saya nikmati tidak ada jarak dengan mahasiswa. Jadi cara mendidik sangat moral personalis, care pada personal. Mari membangun hope di tengah situasi sulit. Karena harapan yang membangkitkan optimisme. Selalu semangat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rektor-unika-saat-wawancara-dengan-tribun.jpg)