Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Wawancara Khusus dengan Ferdinandus Hindiarto, Rektor Terpilih Unika Soegijapranata

Yuval Noah Harari mempertanyakan masih adakah makna hidup dalam pesatnya teknologi digital.

Tayang:
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Tangkapan layar Rektor terpilih Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto saat wawancara dengan Tribun Jateng. 

Program apa yang akan dijalankan dalam mengelola Unika?

Ada beberapa WA (Whatsapp/aplikasi pesan) dari teman rektor kampus lain. (katanya) selamat mas, selamat dek jadi rektor di masa badai dan topan alias pandemi. Ya saya jawab, ya kebetulan rektornya Ali Topan Anak Jalanan jadi pas saja.

Ini tantangan berat, situasi pandemi jelas berdampak pada semua aspek kehidupan. Termasuk calon mahasiswa yang orangtuanya terdampak secara ekonomi. Lalu membangun jaringan untuk pembelajaran e-learning.

Saya pikir semua menarik, kompetisi semakin rapat. Kampus luar negeri menjamah Semarang. Saya mengusung tema untuk mengelola Unika 4 tahun ke depan yakni inflammare humanitatem yang berarti menyalakan terus kemanusiaan.

Kenapa? jujur, sekarang hidup banyak orang mengatakan tidak ada keselamatan di luar teknologi, tanda petik. Seolah-olah kalau tidak ada teknologi akan mati. Kalau handphone (ponsel) ketinggalan saja rasanya wow, panik. Apa iya sih? Mari kembali ke kemanusiaan kita.

Bahwa relasi antarmanusia itu lebih kuat kalau komunikasi langsung. Bahwa teknologi tetap saya tempatkan sebagai alat bantu, tetapi bukan segalanya.

Karena di universitas semua subjek manusia, dengan perilaku kemanusiaanya. Pelakunya dosen dan tenaga kependidikan dengan semua macam kemanusiaan. Jadi orientasi saya fokus di sumber daya manusia, baik mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan.

Maka inflammare humanitarian itu saya hidupkan kembali. Tetapi bukan untuk menyingkirkan teknologi, tidak.

Kadang-kadang perlu mengambil jarak, nikmatilah ketika sehari anda tanpa handphone. Kayanya hidup kita agak beda, lebih akan bahagia. Kalau ada yang mengatakan 'woo aku nggak bisa, itu bohong'. Coba nikmati hidup.

Saya pernah mengatakan kepada mahasiswa, ketika jaringanmu di luar Jawa, di pelosok, mengakibatkan tidak bisa join (bergabung) dengan pembelajaran, bukan berarti kehilangan kesempatan untuk belajar. Silakan belajar dengan cara yang macam-macam. Artinya tidak boleh hidup kita 100 persen bergantung dengan teknologi. Kira-kira itu yang akan saya bawa ke depan.

Unika merupakan kampus swasta terbaik di Jateng, strategi apa untuk mempertahankan itu?

Tentu bukan berarti pekerjaan ringan, mempertahankan. Katanya lebih sulit daripada membangun, klise banget ya, pejabat. Tapi saya berusaha semaksimal mungkin dengan tim yang sedang saya susun.

Saya sih memasang target lebih tinggi dari yang sekarang. Saya terbiasa membangun sebuah mimpi, tapi mimpi yang dihidupi.

Karena dengan segala kemanusiaan tadi, saya optimis bersama-sama bisa meningkat dari yang sekarang. Terimakasih kepada pemimpin sebelumnya yang membangun pondasi, saya tentu harus melanjutkan itu lebih baik dan lebih tinggi.

Saya akan kembali ke nilai-nilai atau values, itu sesuatu yang penting. Dalam organisasi pun values itu yang saya prioritas. Harus dipertahankan dalam konteks hari ini.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved