OPINI
OPINI Opik Mahendra : Petani Rempah Ngalap Berkah
SUDAH hampir dua tahun kita hidup dalam kondisi pandemi. Semenjak itu pula segala daya upaya dilakukan baik oleh Pemerintah ataupun masing-masing
Rempah-rempah menjadi bahan dasar di berbagai bidang, terutama makanan dan kesehatan. Tidak heran jika banyak negara, terutama negara barat seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris yang melakukan pelayaran bersama armada maritimnya untuk mengelilingi dunia mencari rempah-rempah tersebut.
Dari data Negeri Rempah Foundation, ada sekitar 400-500 spesies rempah di dunia, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi yang paling dominan hingga kemudian Indonesia dijuluki sebagai Mother of Spices.
Beberapa daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan DI Yogyakarta.
Tata kelola
Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok rempah dunia yang dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Apalagi, nilai impor (permintaan) dunia terhadap rempah-rempah setiap tahunnya mengalami kenaikan sebesar 7,2% dengan nilai mencapai USD 10,1 miliar.
Rempah-rempah Indonesia banyak digunakan untuk produk obat tradisional, produk kecantikan atau kosmetik, farmasi, bumbu masak, parfum, sabun, dan masih banyak produk lainnya lagi. Iklim tropis menjadikannya sebagai daerah yang memiliki keragaman rempah-rempah dan juga menjadi tempat yang mudah membudidayakannya.
Penggunaan pola pengembangan lahan tanam yang ramah lingkungan mampu menjadikan lahan mampu menyediakan nutrisi secara alami dengan memanfaatkan tenaga surya untuk proses pengeringan. Pengolahan secara alami ini pun menghasilkan produk organik yang berkualitas tinggi.
Sarana produksi dan teknologi yang belum memadai, keterbatasan bibit unggul, tata niaga dan tata kelola yang belum efisien menjadi persoalan tersendiri sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas produksi rempah Indonesia menurun hingga 40-60% dari kualitas standar yang diakui pasar dunia. Akhirnya, untuk mengatasi persoalan tersebut, sedikitnya ada tiga hal yang perlu dilakukan yaitu penerapan teknologi, standar mutu dan pengolahan.
Dari sisi adopsi inovasi teknologi, produksi rempah saat ini masih didominasi petani rakyat sehingga pembentukan klaster dan penguatan kelompok tani menjadi kunci.
Dari segi peningkatan mutu komoditas, pemerintah harus turun tangan melakukan pendampingan dalam pelaksanaan Good Agricultural Practices (GAP) yang meliputi penyiapan lahan, pemupukan, pengairan, perlindungan tanaman, penanganan panen dan pasca panen serta pemasaran.
Terakhir, dari sisi pengolahan, mengurangi penjualan dalam kondisi mentah agar terjadi peningkatan nilai ekonomis (added value) yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap kerusakan saat proses distribusi. (*)
Baca juga: OPINI Riza Maulana : Mewaspadai Kelompok OTG dalam Penyebaran Virus Covid 19
Baca juga: OPINI DR H Aji Sofanudin : Taawun untuk Indonesia
Baca juga: Opini Ir Sumarwanto, MT: Mencapai Generasi Emas dengan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/opik-mahendra_20180526_101438.jpg)