Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mengenang Serangan Teroris 11 September di AS: Islam Ketika Itu Sedang Runtuh

Ketika kepanikan mengguncang warga kota karena dua serangan atas Twin Towers WTC, komunitas Muslim mulai menjadi sasaran kemarahan

Editor: Vito
GETTY IMAGES via BBC INDONESIA
Shamsi Ali, imam asal Indonesia, pemimpin Jamaica Muslim Center di AS 

TRIBUNJATENG.COM, NEW YORK - Selasa pagi, 11 September 2001, menjadi momen yang tak akan terlupakan bagi Shamsi Ali, imam asal Indonesia yang bekerja di Gedung PBB di New York, AS, kala itu.

Dua pesawat menabrakkan Gedung Twin Towers World Trade Centre New York. North Tower yang pertama ditabrak pada 08:46 waktu setempat dan South Tower pada pukul 09:03. Serangan di dua gedung ini menewaskan lebih dari 2.600 orang.

Dua momen yang sering diceritakan dan selalu diingat Shamsi Ali, yang saat ini menjadi direktur Jamaica Muslim Centre, adalah ketika mendengar cacian supir taksi yang tak tahu dirinya Muslim, dan pelukan oleh tetangga Katolik yang menyadarkannya akan hal yang menurutnya sangat penting.

Ketika kepanikan mengguncang warga kota karena dua serangan atas Twin Towers World Trade Centre (WTC), komunitas Muslim mulai menjadi sasaran kemarahan warga setempat. "Sangat menyedihkan, sangat mencekam," cerita Shamsi Ali, mengenang kejadian pagi hari, 20 tahun lalu itu.

Ketika berjalan kaki pulang ke rumahnya dari Manhattan ke Queens yang cukup jauh, ada taksi yang mau berhenti dan mengantarnya. Supir taksi yang tidak mengetahui dirinya Muslim, bersedia mengantar. "Namun ketika di mobil, dia mulai mencaci maki Islam dan orang Islam."

Ketika tiba di rumah, tetangganya, suami istri yang sudah sepuh, bergegas menghampiri dan memeluknya.

"Dia mengatakan tiga kali, 'Saya tak percaya', sambil menangis. 'Saya tak percaya kalau orang Islam yang melakukan ini. Kalau semua orang Islam seperti kamu, tak mungkin dia melakukan itu'," cerita Shamsi mengutip tetangganya.

Ia pun menceritakan tetangganya pemeluk Katolik asal Irlandia yang tidak pernah berbicara soal agama dan sering menyapu halaman depan rumahnya.

"Sikap tetangga itu justru mengingatkan saya, arti agama yang sesungguhnya. Agama itu bukan yang kita lakukan di rumah-rumah ibadah, tapi agama itu adalah apa yang kita lakukan di tengah masyarakat, menampilkan perilaku yang baik," ucapnya.

"Dua hal ini adalah pelajaran penting yang saya bawa dalam langkah dakwah-dakwah saya di Amerika. Betapa banyak teman-teman kita di luar sana yang salah paham dan kewajiban kita untuk memberitahu Islam yang sesungguhnya," jelasnya.

"Yang paling efektif bukan ceramah berapi-api, tapi bagaimana menampilkan Islam dengan perilaku dan karakter," katanya lagi.

Shamsi menyebut Islam ketika itu sedang runtuh. Tantangan paling berat adalah persepsi yang terbalik.

Hari-hari itu, komunitasnya banyak mendengar teman-teman yang menghadapi kekerasan. Ada masjid yang dirusak, ada perempuan yang dipukuli, dan macam-macam kekerasan yang terjadi.

Menurut catatan Biro Penyelidik Federal, FBI, terdapat 28 laporan kejahatan anti-Muslim pada 2000 dan jumlahnya pada 2001 naik hampir 500.

Sejumlah masjid yang sempat diserang, menurut Shamsi, termasuk yang menutup diri dan tidak berupaya mengenalkan diri ke para tetangga.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved