Rabu, 29 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

21 Staf WHO Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Republik Kongo Selama Penanganan Wabah Ebola

Laporan menunjukkan kasus pelecehan seksual skala luas terkait dengan oknum WHO selama bertahun-tahun.

Tayang:
Shutterstock
Ilustrasi 

Laporan tersebut melukiskan gambaran suram, "kegagalan struktural yang jelas" dan "kelalaian individu".

Mencatakan "skala insiden eksploitasi dan pelecehan seksual dalam menanggapi wabah Ebola ke-10, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan kerentanan 'korban yang diduga' yang tidak diberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan untuk pengalaman yang merendahkan seperti itu".

Disebutkan juga bahwa kasus pelecehan seksual ini terjadi karena pelatihan yang terlambat bagi staf untuk mencegah pelecehan atau eksploitasi seksual.

Adanya penolakan dari manajer untuk mempertimbangkan terjadinya kasus, yang mana peringatan hanya diberikan secara lisan dan tidak tertulis.

Selain itu, dipicu karena adanya gangguan dan kekurangan manajerial lainnya dalam menangani dugaan pelanggaran di 9 kota atau desa terpisah di wilayah Republik Kongo.

Passy Mulabama, pendiri dan direktur eksekutif Inisiatif Aksi dan Pengembangan untuk Perlindungan Perempuan dan Anak di DRC (AIDPROFEN), mengatakan temuan itu “tidak dapat diterima.”

"(Orang-orang) yang bertanggung jawab atas eksploitasi dan pelecehan seksual ini harus dihukum atas apa yang telah merella lakukan," tuntut Mulabama.

Laporan pelecehan seksual WHO adalah bacaan "mengerikan"

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut dokumen laporan itu adalah bacaan yang "mengerikan" dan menyampaikan permintaan maafnya kepada para korban serta penyintas.

 
“Adalah prioritas utama saya bahwa para pelaku tidak dimaafkan, tetapi dimintai pertanggungjawaban,” kata Tedros dalam konferensi pers.

Matshidiso Moeti, direktur regional WHO untuk Afrika, mengatakan pihaknya "patah hati" dengan temuan itu.

"Kami di WHO sungguh merasa rendah hati, ngeri, dan patah hati dengan temuan penyelidikan ini," kata Moeti.

“Kami meminta maaf kepada orang-orang ini, kepada para wanita dan gadis-gadis, atas penderitaan yang mereka alami karena tindakan anggota staf kami dan orang-orang yang telah kami kirim ke komunitas mereka,” tambahnya.

Tedros menunjuk ketua panel untuk menyelidiki klaim pelecehan seksual tersebut pada Oktober 2020, setelah laporan media mengatakan pejabat kemanusiaan yang tidak disebutkan namanya melakukan pelecehan seksual terhadap wanita selama wabah Ebola yang dimulai di DRC pada 2018.

Pada saat itu, kepala WHO menyatakan dia “marah” dan berjanji bahwa setiap staf yang terkait dengan pelecehan itu akan segera diberhentikan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved