Berita Internasional
21 Staf WHO Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Republik Kongo Selama Penanganan Wabah Ebola
Laporan menunjukkan kasus pelecehan seksual skala luas terkait dengan oknum WHO selama bertahun-tahun.
Laporan yang mengutip sumber-sumber diplomatik Barat mengatakan 4 orang telah dipecat dan 2 ditempatkan pada cuti administratif, berdasarkan pengarahan tertutup WHO yang diberikan kepada pejabat diplomatik di Jenewa.
Julie Londo, anggota Persatuan Perempuan Media Kongo (UCOFEM), sebuah organisasi perempuan yang bekerja untuk melawan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap perempuan di DRC, menghargai WHO karena menghukum staf yang terlibat dalam tuduhan pelecehan seksual itu.
Namun, Londo mengatakan bahwa itu saja tidak cukup, WHO perlu melakukan lebih banyak lagi.
"WHO harus memikirkan ganti rugi kepada semua wanita yang mengalami trauma dari pelecehan seksual, dan puluhan anak yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan sebagai akibat dari pelecehan seksual itu," terangnya.
“Ada puluhan gadis di Butembo dan Beni yang memiliki anak dengan para dokter (WHO) selama epidemi Ebola...Kami akan melanjutkan perjuangan kami untuk mengakhiri pelanggaran ini,” ucapnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "21 Anggota Staf WHO Diduga sebagai Pelaku Pelecehan Seksual di Republik Kongo"
Baca juga: Aparat Korea Utara Datangi Warga dari Rumah ke Rumah untuk Lacak Covid-19
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-pelecehan-seksuallll.jpg)