Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Tekad Besar Keluar dari Kemiskinan, Chusnul Chotimah Terpacu untuk Mengubah Nasib lewat Pendidikan,

Hidup dalam keterbatasan secara ekonomi telah dialami Chusnul Chotimah (25) sejak kecil. Meski demikian, hal itu tidak menjadi penghalang baginya.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Dokumentasi Pribadi Narasumber
Chusnul Chotimah 

TRIBUNJATENG.COM - Hidup dalam keterbatasan secara ekonomi telah dialami Chusnul Chotimah (25) sejak kecil.

Meski demikian, hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi.

Buktinya, Chusnul lulus sebagai sarjana dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes), pada tahun 2019.

Sebagai lulusan terbaik pula.

Chusnul bercerita, kondisi serupa juga dialami tiga saudaranya.

Mereka rata-rata bersekolah maksimal hanya sampai jenjang SMP.

Baca juga: Foto-foto Seni Lukis Artpaintour 2 Gedung Creative Hub Kota Lama Semarang

Baca juga: Pernikahan Islam Anak Bos Microsoft Bill Gates: Jennifer Gates dan Nayel Nassar

Bayangan untuk dapat bersekolah hingga SMA, apalagi pada tingkatan perguruan tinggi, tidak pernah mereka miliki.

“Saya dilahirkan di keluarga yang ditakdirkan memang ekonominya tidak mampu. Ditambah, jauh dari yang namanya pendidikan. Bahkan dulu saya tidak disekolahkan mulai TK. Jadinya, ketika masuk SD saya pernah tidak naik kelas karena sama sekali tidak bisa membaca dan menulis,” katanya.

Chusnul Chotimah saat menjadi tamu di acara Hitam Putih Trans7
Chusnul Chotimah saat menjadi tamu di acara Hitam Putih Trans7 (DOKUMENTASI PRIBADI)

Selain hidup dengan penuh keterbatasan ekonomi, kata Chusnul, keluarganya juga kurang memberikan dukungan penuh terhadap keinginannya untuk bersekolah sampai jenjang sarjana.

Kondisi itu karena memang budaya belajar serta semangat bersekolah kurang tertanam kuat pada orang tuanya.

Ia menambahkan, lantaran tidak naik kelas sewaktu SD itu membuatnya terpacu untuk terus belajar dan mengejar ketertinggalan dari teman seangkatan.

Alhasil, perlahan prestasi akademiknya mulai membaik.

Bahkan dia seringkali menjadi juara kelas.

“Bahkan, dulu sepulang sekolah saya masih ingat sampai rumah menangis. Ya karena tadi, ini teman-teman saya sudah bisa membaca dan menulis, kok saya belum ya. Tapi, sejak peristiwa itu saya rajin belajar bagaimana caranya bisa, dan alhamdulillah menjadi sering juara kelas. Sampai kemudian ketika lulus mendapat predikat lulusan terbaik,” ungkapnya.

Lulusan terbaik SDN 1 Tambi, Kabupaten Wonosobo, tahun 2008 tersebut menyampaikan, Chusnul tumbuh dari keluarga kurang mampu.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved