Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Tekad Besar Keluar dari Kemiskinan, Chusnul Chotimah Terpacu untuk Mengubah Nasib lewat Pendidikan,

Hidup dalam keterbatasan secara ekonomi telah dialami Chusnul Chotimah (25) sejak kecil. Meski demikian, hal itu tidak menjadi penghalang baginya.

Tayang:
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Dokumentasi Pribadi Narasumber
Chusnul Chotimah 

“Kebetulan keluarga saya juga membebaskan, dan saya bisa atur waktu saja antara kuliah dan kerja. Di sela-sela waktu yang lain sebelum jadi pengemudi ojek online saya menjadi guru les dengan bayaran Rp 40 ribu-Rp 50 ribu sekali pertemuan cukup untuk makan. Semua saya lakukan untuk bisa survive,” imbuhnya.

Chusnul menerangkan, bahkan dari ngojek selama hampir dua tahun itu dia memiliki tabungan.

Sebagian, akhirnya dipakai untuk biaya membeli sepeda motor, kemudian sisanya dipakai untuk keperluan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Kinabalu, Sabah, Malaysia.

PPL ke luar negeri sebagai pengajar di sekolah perbatasan, lanjutnya, bukan program kampus tetapi inisiatif pribadi sehingga pembiayaan mesti dipersiapkan sendiri. 

Baca juga: Keluarga Tersangka Kasus Penganiayan di Tempat Karaoke di Banyumas Lapor Balik: Suami Saya Dipukul

Baca juga: Petugas Pasang Garis Polisi di Kandang Kambing: Ada Orang Meninggal

Pernah Terpikir untuk Jadi Buruh Migran

BERBEDA dari teman sebayanya, yang memilih melanjutkan ke SMA, setelah lulus SMP Chusnul Chotimah (25) lebih memilih melanjutkan pendidikan ke SMK. Keputusan itu diambilnya atas pertimbangan biaya.

Namun, dirinya kekeuh ingin melanjutkan sekolah bahkan apabila mendapat kesempatan ingin sampai pada perguruan tinggi tidak peduli kampus swasta maupun negeri.

"Karena saya ingin mengangkat derajat kedua orang tua saya, keluarga saya dari pandangan orang-orang. Waktu itu kenapa saya memilih SMK, sesuai jargonnya ‘SMK Bisa’, pikiran saya waktu itu apabila lulus bisa langsung bekerja,” kata Chusnul.

Bahkan, kata Chusnul, dia sempat terpikir untuk menjadi buruh migran.

Chusnul menjelaskan, alasan menjadi TKW tidak lain dan tidak bukan karena beranggapan menjadi pekerja migran rata-rata di kampungnya sukses serta memiliki kekayaan yang dapat dibanggakan.

Lebih dari itu, semasa ia lulus dari SMP ajakan untuk sekolah di SMK sedang ramai-ramainya digaungkan pemerintah.

Kemudian, secara khusus Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak membebankan biaya sama sekali alias gratis.

"Tentu saya tertarik dong. Tapi jujur saja, saya ingin kaya. Cita-cita saya saat itu hanya itu. Tidak dibuat-dibuat ini, mohon maaf, hidup dalam serbakekurangan, ya siapa tidak capek. Jadi terus terang bayangan saya menjadi TKW kerja bayaran gede, tidak mungkin dapat gaji besar lulusan SMK saya dapatkan di Indonesia," imbuhnya.

Alhasil, pada 2011 Chusnul diterima di SMKN 1 Wonosobo.

Selama duduk di bangku SMK itu tidak jarang dia menerima berbagai macam omongan yang sifatnya merendahkan.

Ada pula cibiran, yang sampai membawa-bawa kedua orang tuanya.

Parahnya sikap meremehkan itu tidak hanya datang dari tetangga, melainkan pula kerabat bahkan sejumlah saudara.

Akan tetapi Chusnul memilih menanggapinya dengan diam.

Ia, terus meyakinkan diri untuk meraih cita-cita, jika pun nantinya gagal bisa sekolah sampai perguruan tinggi akan mengganti dengan bekerja di luar negeri.

Dengan harapan, apabila ambisinya menjadi seorang sarjana kandas minimal ia memiliki uang dan kekayaan yang dapat dibanggakan.

Selama sekolah, Chusnul masih berjualan sejumlah aksesoris.

Sepulang sekolah, untuk menambah pendapatan dari berjualan, dia menjadi guru les komputer bagi karyawan pabrik di daerahnya.

Dari hasil menjadi guru les untuk karyawan pabrik yang ingin belajar MS Excel dan MS Word, per bulan Chusnul mendapatkan hasil yang cukup lumayan, rata-rata Rp 1,5 juta.

Baca juga: Dedikasi Penanganan Covid-19, Puluhan Anggota Polresta Solo Dapat Penghargaan

Baca juga: Bupati Jepara Lepas 4 Atlet ke Pekan Paralimpik Papua 2021, Janjikan Bonus ke Peraih Medali

Uang tersebut, digunakan untuk membeli sejumlah kebutuhan sekolah maupun biaya lain manakala ada ujian praktik.

“Kebetulan sewaktu SMK saya ambil Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Jadi dari ilmu yang saya dapat di sekolah, saya manfaatkan membuka les-lesan. Kebetulan ada karyawan pabrik, yang dituntut untuk bisa mengoperasikan Microsof Excel dan Word. Jadi lumayan, buat nambah-nambah pendapatan,” ungkapnya. (*)

BIODATA Chusnul Chotimah

Tempat dan tanggal lahir : Wonosobo, 30 April 1996

Hobi: bermusik dan menulis

Profesi : staf pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved