Smart Women
Tekad Besar Keluar dari Kemiskinan, Chusnul Chotimah Terpacu untuk Mengubah Nasib lewat Pendidikan,
Hidup dalam keterbatasan secara ekonomi telah dialami Chusnul Chotimah (25) sejak kecil. Meski demikian, hal itu tidak menjadi penghalang baginya.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Bapaknya, lanjutnya, hanya bekerja sebagai staf di kelurahan dengan gaji yang pas-pasan untuk menghidupi empat bersaudara.
Adapun sang ibu sebatas ibu rumah tangga, yang memanfaatkan waktu luangnya untuk berjualan aneka macam gorengan dan camilan.
Baca juga: Misteri Temuan Mayat Wanita dalam Karung, Rusak hingga Sulit Dikenali, Tubuh Terikat
Baca juga: Pemerintah Geser Hari Libur Maulid Nabi, Pencari Kesempatan Harpitnas Gigit Jari
Selulus SD, Chusnul melanjutkan pendidikan ke SMP 1 Kejajar, Wonosobo. Kesempatan itu didapatnya tidaklah mudah.
Untuk menutup kekurangan biaya sekolah, dia sekolah sembari berjualan aneka jajanan, seperti cilok dan bakso-baksoan, kemudian kaus, dan beragam aksesoris.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, selama duduk di bangku SMP Chusnul terus memacu diri.
Selain mempertahankan prestasi akademik, dia juga aktif berorganisasi hingga kemudian terpilih menjadi ketua OSIS.
“Saya juga ikut lomba-lomba. Kebetulan saya memiliki hobi menyanyi dan bermusik. Lalu, setelah mengikuti berbagai macam perlombaan pada tahun 2010 mendapat juara 1 lomba macapat tingkat Kabupaten Wonosobo. Pokoknya, saat itu saya mulai sadar, jika kemiskinan itu takdir, satu-satunya jalan keluar adalah ilmu pengetahuan. Ya, bagaimana caranya bisa ini dan itu, banyak mencoba hal-hal baru,” paparnya.
Selama kuliah, kata dia, seiring kesadaran bahwa dengan memiliki ilmu pengetahuan dapat mengatasi keterbatasan dia juga mengikuti beragam perlombaan untuk mengasah kemampuan di luar bidang akademik.
Dia antara lain pernah menjadi juara 1 Penulisan Cerpen tingkat Kabupaten Wonosobo (2018), juara 2 Konten Blogger Kabupaten Wonosobo (2018), dan juara 3 Cipta Jingle Semangat Membaca dari Arpusda Wonosobo pada tahun yang sama.
“Masih di tahun 2018 saya juga mendapat juara 1 Solo Singer Tingkat Nasional di Kediri, Jawa Timur. Kebetulan semenjak SMK saya suka bermusik, juga suka menulis, tahun kemarin 2020 saya menerbitkan buku berjudul Kala Mimpiku Menembus Langit-Mu,” paparnya.
Chusnul menjelaskan, beberapa kelebihan yang dimilikinya di luar bidang akademik itu dilatihnya secara autodidak.
Dia sama sekali tidak pernah bergabung pada komunitas tertentu, yang concern pada musik atau dunia kepenulisan.
Meskipun sibuk dengan berbagai aktivitas tuntutan mempertahankan nilai akademik sebagai penerima beasiswa Bidikmisi tetap terpenuhi.
Nilainya pada bidang akademik relatif stabil dan selalu Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya melebihi angka tiga.
Dia menegaskan, masalah yang dihadapinya semenjak kecil sampai dewasa berkutat pada ekonomi keuangan, sedangkan perihal nilai akademik disebutnya selalu baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/chusnul-chotimah-18102021.jpg)