Breaking News:

Libur Natal

Obyek Wisata di Kota Pekalongan Tetap Buka Saat Libur Natal

Pada momentum libur natal dan tahun baru Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan, tetap membuka objek wisata.

Tribun Jateng/ Indra Dwi Purnomo
Pengunjung saat berkeliling ke ruang pamer Museum Batik Pekalongan. 

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Pada momentum libur natal dan tahun baru Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan, tetap membuka objek wisata. 


Tak hanya obyek yang dikelola pemerintah daerah saja, namun Dinparbudpora juga mengizinkan wisata yang dikelola swasta untuk tetap buka, namun dengan catatan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.


"Saat Nataru semua objek wisata tetap buka, tapi pengelola dan pengunjung tetap diwajibkan untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Hal tersebut guna mengantisipasi melonjaknya kasus positif Covid- 19 di Kota Pekalongan pasca libur Natal dan tahun baru," kata Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan Sutarno kepada Tribunjateng.com, Kamis (16/12/2021).


Sutarno menjelaskan, saat ini untuk memasuki obyek wisata di Kota Pekalongan belum memberlakukan scan aplikasi peduli lindungi. Namun, pihaknya terus mengupayakan ke depannya untuk pelayanan lebih baik lagi.


"Scan aplikasi peduli lindungi memang belum siap untuk syarat masuk obyek wisata di Kota Pekalongan, tetapi untuk di hotel-hotel sudah menerapkan. Ke depannya kita tetap mengupayakan pelayanan yang lebih baik," jelasnya.


Sementara itu, Kepala UPTD Museum Batik Pekalongan Bambang Saptono mengatakan, Museum Batik belum menerima surat untuk diberlakukan penutupan wisata. Pihaknya lebih senang jika, wisata Museum Batik Pekalongan pada libur Nataru tetap beroperasional buka.


"Saya lebih senang jika pada saat libur Nataru itu museum tetap buka, karena ketika kemarin sudah pernah tutup, kemudian dibuka kembali, saya pikir untuk membangkitkan jumlah kunjungan lagi lebih susah.


"Terlebih, untuk tingkat kerumunan di Museum Batik masih bisa dikendalikan, dibandingkan di wisata alam. Misalkan datang kunjungan dari 3 bus, bisa kita arahkan untuk bergiliran ke ruangan-ruangan koleksi pamer yang dibagi secara bergantian," katanya 


Bambang menyebutkan, untuk segmen kunjungan di Museum Batik ini mayoritas didominasi oleh anak-anak sekolah. Ketika Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dibatasi, tentunya pihaknya hanya mengandalkan kunjungan yang sifatnya insidentil dari kunjungan orang dewasa, tamu dari luar kota yang pada saat itu tengah berkunjung di Kota Pekalongan.


"Untuk kembali seperti semula, kami masih berupaya salah satunya dengan pameran koleksi foto sejarah dari pelaku ekonomi kreatif ini untuk membangkitkan kunjungan ke museum," imbuhnya. 


Bambang menambahkan, di tahun 2022 mendatang, pihaknya berupaya untuk merotasi dan menambah koleksi-koleksi kain batik yang bisa ditampilkan di ruang pamer.


Mengingat, adanya keterbatasan ruangan dan saat pengajuan revitalisasi Museum Batik Pekalongan ke Pemerintah Pusat belum turun, maka hal ini menjadi upaya yang bisa menambah jumlah kunjungan ke museum ke depannya.


"Kami mengandalkan koleksi yang ada untuk dirotasi, dan mudah-mudahan ada beberapa penyumbang yang meminta koleksinya supaya koleksinya bisa dipajang. Namun, karena temanya belum ada kesinambungan maka koleksi dari beberapa penyumbang tersebut belum bisa dipamerkan, di antaranya dari koleksi kain milik Rina Akbar Tanjung yang mengirimkan 6 koleksi kain batiknya untuk dititipkan di Museum Batik ini," tambahnya. (Dro)

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved