OPINI
OPINI Athok Mahfud : Masa Depan Sarjana di Saat Pandemi
MENJELANG Hari H Wisuda teman saya dirundung kegelisahan. Baginya, momen wisuda hanyalah euforia sesaat.
Oleh: Athok Mahfud
Alumnus UIN Walisongo Semarang
MENJELANG Hari H Wisuda teman saya dirundung kegelisahan. Baginya, momen wisuda hanyalah euforia sesaat.
Pasalnya gelar sarjana yang diperoleh membawanya memasuki babak baru. Setelah ini, ia akan menghadapi dunia baru, menjalani proses kehidupan sebenarnya yang penuh dengan tantangan dan liku-liku.
Dalam suatu perbincangan, teman saya mengaku kebingungan dengan jalan yang akan dipilih pasca lulus. Hal ini karena kondisi wabah corona yang membuat langkah semakin sulit. Sebagai sarjana yang lulus saat pandemi, dunia kerja yang menjadi arena pertarungan selanjutnya dipenuhi dengan bebatuan terjal dan lintasan berkelok-kelok.
Kondisi krisis akibat pandemi ini menjadikan persaingan di dunia kerja semakin ketat.
Kebimbangan yang dirasakan teman saya barangkali juga dialami oleh ribuan sarjana lainnya di Indonesia.
Tidak peduli dari kampus mana pun, para sarjana tengah mengkhawatirkan masa depannya di tengah situasi yang menyulitkan ini.
Bahkan tuntutan untuk mandiri secara finansial terus membayang-bayangi dan menjadi momok yang menakutkan bagi para sarjana.
Kecemasan akan masa depan yang dirasakan sarjana tentu tidak lepas dari situasi yang terjadi. Di mana pandemi covid-19 mengakibatkan krisis multidimensi, termasuk ekonomi.
Hingga dampaknya, para pegawai terkena PHK serta pekerja lapangan mengalami penurunan penghasilan. Bahkan pandemi juga menyebabkan banyak lapangan pekerjaan yang ditutup.
Hal tersebut berimbas kepada meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa angka pengangguran meningkat selama pandemi, yang didominasi masyarakat usia produktif.
Dengan rincian, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di kelompok usia 20 - 24 tahun tercatat 17,66 pesen pada Februari 2021, naik dibanding 2020 sebesar 14,3 persen. Sementara TPT di kelompok usia 25 - 29 pada Februari 2021 mencapai 9,27 persen, meningkat daripada 2020 yang sebesar 7,01 persen, (Kompas.com).
Data di atas menunjukkan bahwa pengangguran di Indonesia didominasi oleh pemuda dengan umur 20 - 29 tahun.
Masalah ini tentu menjadi pukulan telak bagi para sarjana, yang termasuk dalam kelompok usia tersebut. Kondisi demikian juga mendesak sarjana untuk berpikir dan berusaha lebih keras agar tidak menjadi pengangguran.