OPINI
OPINI Athok Mahfud : Masa Depan Sarjana di Saat Pandemi
MENJELANG Hari H Wisuda teman saya dirundung kegelisahan. Baginya, momen wisuda hanyalah euforia sesaat.
Seseorang dapat mengaktualisasikan dirinya dengan menyingkirkan rintangan dan hambatan yang ada di dalam pikiran dan lingkungannya.
Poin penting yang perlu digarisbawahi ialah, seorang sarjana harus mampu membangun kesadaran tentang tujuan hidup serta mampu mengelola pikiran dan emosi.
Proses aktualisasi diri seorang sarjana dapat ditunjukkan dengan mengekspresikan serangkaian potensi, kekuatan, dan motivasi.
Sehingga kecemasan sekaligus harapan tentang masa depan menjadi stimulus yang mendorongnya untuk berjuang lebih keras dalam menaklukkan rintangan dalam hidup.
Sementara jika melihat realita di tengah corona kini, sektor ekonomi perlahan-lahan mulai bangkit dan pulih. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimis tingkat pengangguran pada 2022 dapat turun kembali. Keyakinan ini tecermin dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran angka 5 hingga 5,5 persen, dengan titik tengah 5,2 persen. Dengan asumsi ini, angka pengangguran akan bisa diturunkan menjadi antara 5,5 persen hingga 6,3 persen, (Jawapos.com).
Proyeksi tersebut tentu memberi harapan bagi para sarjana untuk dapat memaksimalkan peluang yang ada. Namun ini semua tetap tergantung pada pribadi masing-masing.
Pasalnya, sebagaimana kata Maslow, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju dalam pencapaian misi hidupnya. Tinggal bagaimana berusaha mengupayakan untuk terus membangun dan menghidupkan potensi yang dimiliki.
Proses aktualisasi diri juga harus disertai orientasi realistik berdasarkan pengamatan terhadap objek. Melihat kondisi di tengah kemajuan teknologi internet ini, sesungguhnya menawarkan banyak peluang bagi sarjana untuk mendapatkan pekerjaan.
Banyak pekerjaan baru yang muncul seiring dengan adanya digitalisasi, seperti YouTuber, conten creator, admin media sosial, online shop, ojek online dan lainnya. Justru inilah sisi positif dari pandemi yang menuntut masyarakat beradaptasi dengan dunia digital.
Kegelisahan para sarjana yang lulus di masa corona pada dasarnya ialah suatu kewajaran. Namun jangan sampai menjadikan hal itu sebagai beban yang justru akan membelenggu langkah ke depan.
Perubahan pola pikir menjadi awal untuk bisa menyadari situasi yang ada. Kemudian dilanjutkan dengan mengaktualisasikan diri dengan mengerahkan seluruh potensi, pengetahuan, dan keterampilan. Sehingga para sarjana mampu mengatasi masalah guna menyongsong karir dan masa depan yang cerah. (*)
Baca juga: Hasil Perempat Final Coppa Italia Inter Milan Vs AS Roma, Gol Cepat Edin Dzeko Kagetkan Mourinho
Baca juga: Respon Mengejutkan Pep Guardiola saat Tahu Pemainnya Dugem Sebelum Manchester City vs Brentford
Baca juga: Viral Tarif Tiket & Parkir Wisata Gunung Kemukus Sragen Dinilai Ngepruk
Baca juga: Jangan Kaget, Ini Daftar Makanan yang Baiknya Tak Dikonsumsi dengan Kopi dan Teh, Termasuk Gorengan