Putin Tarik Pasukan, Kanselir Jerman Sukses Redakan Ketegangan Rusia-Ukraina
Kanselir Jerman Olaf Scholz ke Moskow pada Selasa (15/2), dan menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama 4 jam.
TRIBUNJATENG.COM, MOSKOW - Isu invasi Rusia atas Ukraina yang diperkirakan bakal dilakukan pada Rabu (16/2), tidak terjadi. Kedatangan Kanselir Jerman Olaf Scholz ke Moskow pada Selasa (15/2), sukses mencegah eskalasi krisis di perbatasan Rusia-Ukraina.
Olaf Scholz merupakan pemimpin Barat terbaru yang mengunjungi kawasan itu untuk mencoba meredakan ketegangan. Ia datang ke Moskow setelah sehari sebelumnya berkunjung ke Ukraina.
Di Moskow, Scholz menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama 4 jam. Dalam konferensi pers usai pertemuan itu, SchoIz mengatakan, dialog tingkat tinggi antara Rusia dan Jerman, serta mitra-mitra di Eropa sangat penting untuk mencapai stabilitas.
"Yang paling penting adalah mengelola hubungan antarnegara melalui diskusi yang baik satu sama lain. Adalah tugas mutlak kita sebagai kepala pemerintahan bahwa Eropa tidak melihat eskalasi menjadi perang," katanya, dalam konferensi pers bersama setelah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Bagi warga Eropa, jelas bahwa keamanan tidak dapat dicapai melawan Rusia, tetapi hanya dengan Rusia (dialog-Red). Dialog tidak bisa berakhir di jalan buntu, itu akan menjadi bencana bagi semua orang. Penting untuk menempuh jalan diplomasi demi menghindari perang di Eropa," tambahnya.
Menurut dia, penumpukan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina dapat dilihat sebagai ancaman. "Tentu saja kami sangat prihatin, ada lebih dari 100.000 tentara Rusia di perbatasan dengan Ukraina, dan kami merasa ini tidak dapat dipahami," tukasnya.
"Namun, kami sekarang mendengar bahwa lebih banyak pasukan akan ditarik, yang merupakan sinyal positif, dan kami berharap lebih banyak lagi yang akan mengikuti," ujarnya.
Namun, mengacu pada Ukraina, Kanselir Jerman itu menyatakan, perbatasan teritorial tidak dapat diganggu gugat, dan tidak untuk dinegosiasikan.
Scholz mengatakan, penambahan pasukan tidak dapat dipahami, tetapi masih ada kemungkinan solusi diplomatik dapat meredakan ketegangan.
Adapun, Presiden Rusia mengatakan dia juga siap berdialog. "Kami siap untuk bekerja sama lebih jauh. Kami siap untuk menempuh jalur negosiasi," kata Putin, pada konferensi pers bersama.
Ia berujar, Jerman adalah satu mitra terpenting Rusia, dan menyatakan bahwa pihaknya bermaksud untuk bekerja sama lebih lanjut dengan Berlin.
Putin menekankan peran hubungan ekonomi antara kedua negara. Jerman adalah mitra dagang terbesar kedua Rusia setelah China.
Tak ingin perang
Ketika ditanya tentang prospek perang, Putin memastikan Rusia tidak menginginkan perang di Eropa. Tetapi, masalah keamanannya harus ditangani dan ditanggapi dengan serius.
"Apakah kami menginginkan ini atau tidak? Tentu saja tidak. Itulah mengapa kami mengajukan proposal untuk proses negosiasi."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dialog-rusia-jerman-soal-ukraina.jpg)