Rabu, 29 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kendal

Pedagang Tempe dan Tahu di Pasar Tradisional Kendal Bakal Mogok Jualan 3 Hari

Pedagang tahu dan tempe di pasar tradisional Kabupaten Kendal bakal menggelar aksi mogok jualan selama tiga hari, terhitung mulai 21-23 Februari 2022.

Penulis: Saiful Ma sum | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Pedagang sedang berjualan tahu di Pasar Tradisional, Kota Kendal, Jumat (18/2/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pedagang tahu dan tempe di pasar tradisional Kabupaten Kendal bakal menggelar aksi mogok jualan selama tiga hari, terhitung mulai 21-23 Februari 2022.

Hal serupa juga dilakukan produsen tempe dan tahu yang akan melakukan mogok produksi.

Aksi tersebut menindaklanjuti surat pemberitahuan dari Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah, pada 15 Februari 2022 kamarin.

Aksi mogok produksi dan jualan tempe tahu ini menyikapi tingginya harga kedelai yang tak kunjung stabil dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara produsen tidak bisa menaikkan harga jual dikarenakan kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil.

Seorang produsen tempe dan tahu asal Sijeruk Kendal, Kurnia mengatakan, produksi tempe dan tahunya dihentikan mulai besok, Sabtu (19/2/2022).

Padahal, sekali produksi bisa menghabiskan 5 kuintal kedelai untuk tahu, dan satu kuintal kedelai untuk membuat tempe.

Kurnia dan suami tetap akan berkomitmen bersama produsen lainnya dengan aksi mogok produksi, agar pemerintah menekan harga bahan pokok pembuatan tahu dan tempe.

Meskipun, dia tidak tega jika masyarakat bakal kelimpungan mencari stok tempe dan tahu selama tiga hari.

"Saya sudah dapat surat pemberitahuannya. Ini bagian dari sikap koperasi produsen agar pemerintah lebih serius menanganinya. Sekarang saja saya beli kedelai Rp 12.000 per kilogram," terangnya.

Menurutnya, selama ini produsen tempe dan tahu merasa tercekik dengan melambungnya harga kedelai.

Dia dan suami hanya bisa mengurangi ukuran tempe, tanpa menaikkan harga jual.

Dikhawatirkan akan membebani masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, Kurnia juga bakal komitmen tidak membuka lapak tahu dan tempenya mulai Senin hingga Rabu mendatang di Pasar Tradisional Kendal.

Waktu tersebut bakal dimanfaatkan untuk istirahat, sembari menunggu tanggapan dari pemerintah.

"Tempe dan tahu enggak bisa naik harganya. Bisanya dikurangi ukurannya agak kecil. Kalau tahu, mulai hari ini naik sampai Rp 500," ujarnya. 

Kurnia mengaku kasihan pada masyarakat jika harga tahu dan tempe dinaikkan, apalagi bakal ada aksi mogok produksi dan jualan dalam beberapa hari ke depan.

"Sehari gak ada tahu dan tempe saja bisa ribut pembeli, apalagi tiga hari. Kasihan juga," kata dia.

Pedagang Tahu dan Tempe di Pasar Kendal, Tutik Mulyati merasa keberatan jika harus mogok berjualan.

Karena pendapatan hasil jualan tahu dan tempe sangat berarti untuk mencukupi kebutuhan makan keluarganya sehari-hari.

Namun demikian, Tutik juga tidak mau kondisi ini berlarut-larut tanpa ada penanganan dan solusi dari pemerintah.

Dia kasihan jika produsen tempe dan tahu tertekan dengan harga kedelai yang melambung tinggi.

"Rakyat kecil seperti saya pasti mengeluh. Saya maunya jualan, tapi kasihan juga produsen. Sekarang saja tempenya semakin kecil, hari ini tahu mulai naik. Kasihan juga pembeli, serba susah," keluhnya.

Dalam sehari, Tutik bisa menjualkan puluhan tempe berbagai ukuran.

Ia juga menyetok puluhan tahu potong yang sudah dikemas ke dalam plastik dengan harga bervariatif.

Dari hasil jualannya, dia bisa mendapatkan untung hingga Rp 50 ribu per hari.

Digunakan untuk kebutuhan harian 4 anggota keluarganya.

Tutik berharap, pemerintah bisa mencarikan solusi atas permasalahan harga kedelai yang tinggi.

"Rakyat kecil maunya harga kedelai bisa kembali standar. Jangan mahal semua, soalnya kalau mahal, dijual susah. Saat ini peminat tahu juga semakin sedikit, kalau tempe masih stabil," terang dia.

Pedagang lain, Sulastri menambahkan, harga tahu naik Rp 500 per satu bungkus isi 10 potong.

Sementara harga tempe masih stabil di angka Rp 2.500 - Rp 7.000 per potong sesuai ukuran yang ditentukan.

Ia berharap, aksi ini bagian dari usaha produsen dan pedagang tahu tempe agar lebih diperhatikan lagi kesejahteraannya.

"Saat ini tempe harganya belum naik, tapi ukurannya berkurang. Kami berharap tidak sampai terjadi kenaikan harga tempe, masyarakat pasti menjerit," tegasnya. (Sam)

Baca juga: Harga Minyak Masih Tinggi, Penjual Getuk Goreng Tidak Berani Menaikan Harga

Baca juga: Bupati Pemalang Berharap Jurnalis Bantu Pembangunan Daerah dengan Produk Berita Aktual dan Objektif 

Baca juga: Cegatan Polisi Karanganyar Mobil Pribadi Pasang Strobo, Ancaman Penjara 1 Bulan, Denda Rp 250 Ribu

Baca juga: Pelatihan DEA Tumbuhkan Wirausaha Mandiri UMKM di Kabupaten Tegal 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved